01, 2026
Nasional

Prabowo Pimpin Upacara Hari Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya

Mira Permata
Mira Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Presiden Prabowo Subianto memimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang digelar di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur. Upacara berlangsung khidmat dengan protokol kenegaraan penuh, dihadiri oleh para pejabat tinggi negara, pimpinan lembaga negara, menteri Kabinet Merah Putih, panglima TNI, kapolri, serta perwakilan korps diplomatik negara sahabat.

Bertindak sebagai inspektur upacara, Presiden Prabowo tiba di lokasi mengenakan pakaian dinas upacara berwarna gelap lengkap dengan peci. Kedatangan kepala negara disambut dengan penghormatan pasukan dan laporan komandan upacara. Seluruh rangkaian acara berjalan dengan tata upacara militer yang ketat, mulai dari pengibaran bendera Merah Putih, pembacaan teks Pancasila, pembacaan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, hingga mengheningkan cipta untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI.

Makna Hari Kesaktian Pancasila

Hari Kesaktian Pancasila diperingati setiap tanggal 1 Oktober. Peringatan ini merujuk pada peristiwa sejarah tahun 1965, ketika sejumlah perwira tinggi TNI Angkatan Darat menjadi korban dalam sebuah gerakan yang kemudian dikenal sebagai G30S/PKI. Para korban tersebut kini dikenang sebagai Pahlawan Revolusi dan dimakamkan di kompleks Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya.

Peringatan ini dimaknai sebagai momentum untuk menegaskan kembali bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang tidak tergantikan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dijadikan pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pesan Persatuan dan Stabilitas Nasional

Dalam amanat yang dibacakan, Presiden Prabowo menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan seluruh elemen bangsa. Kepala negara mengingatkan bahwa perbedaan pandangan politik, suku, agama, dan golongan tidak boleh menjadi alasan untuk memecah belah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia menegaskan bahwa Pancasila adalah rumah bersama yang mampu menampung seluruh keberagaman tersebut.

Presiden juga menyoroti tantangan yang dihadapi bangsa pada era kontemporer, termasuk disrupsi teknologi, dinamika geopolitik global, serta tekanan ekonomi dunia. Menurutnya, ketahanan ideologi menjadi fondasi utama dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut. Pancasila dinilai tetap relevan sebagai kompas dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang berkeadilan dan berpihak kepada rakyat.

Amanat itu juga menyentuh aspek stabilitas nasional. Presiden mengingatkan seluruh aparatur negara agar menjaga netralitas dan profesionalisme dalam menjalankan tugas. Ia menekankan bahwa stabilitas politik dan keamanan merupakan prasyarat mutlak bagi kelancaran program pembangunan, khususnya dalam upaya mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan pemerataan kesejahteraan di seluruh wilayah Indonesia.

Rangkaian Upacara dan Penghormatan

Rangkaian upacara diawali dengan laporan komandan upacara kepada inspektur upacara. Selanjutnya, dilakukan pengibaran bendera Merah Putih oleh pasukan pengibar bendera yang terdiri dari anggota TNI dan Polri. Pembacaan teks Pancasila dibacakan diikuti oleh seluruh peserta upacara, disusul pembacaan naskah Pembukaan UUD 1945.

Mengheningkan cipta dipimpin langsung oleh inspektur upacara. Seluruh peserta menundukkan kepala sejenak untuk mendoakan arwah para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi mempertahankan ideologi negara. Suasana di kawasan Lubang Buaya pun berlangsung hening dan penuh khidmat selama prosesi tersebut.

Usai upacara, Presiden beserta sejumlah pejabat melakukan tabur bunga di makam para Pahlawan Revolusi. Prosesi tabur bunga ini menjadi simbol penghormatan tertinggi negara kepada para pahlawan yang telah gugur. Presiden tampak didampingi sejumlah menteri dan pimpinan lembaga negara saat melakukan prosesi tersebut.

Harapan ke Depan

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremonial tahunan semata. Berbagai kalangan mendorong agar nilai-nilai Pancasila diinternalisasi dalam praktik kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, maupun ruang publik. Pendidikan karakter berbasis Pancasila dinilai menjadi kunci dalam membentuk generasi muda yang memiliki integritas, toleransi, dan semangat gotong royong.

Selain itu, peringatan ini menjadi pengingat bagi seluruh penyelenggara negara untuk senantiasa menjunjung tinggi etika, transparansi, dan akuntabilitas dalam menjalankan amanah rakyat. Penguatan nilai ideologi diyakini berbanding lurus dengan upaya pemberantasan korupsi, penegakan hukum, serta peningkatan kualitas pelayanan publik.

Dengan terselenggaranya upacara di Lubang Buaya, pemerintah menegaskan komitmen untuk terus merawat memori kolektif bangsa terhadap sejarah perjuangan. Pancasila diposisikan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan pedoman hidup yang terus hidup dan menjadi ruh dalam setiap langkah pembangunan menuju Indonesia yang maju, adil, dan sejahtera.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Mira Permata

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter