24, 2026
Teknologi

Pramono Ingin Wilayah Ini Menyerupai Myeongdong di Jakarta

Hendra Hartono
Hendra Hartono Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Gubernur Jakarta Pramono Anung mengungkapkan keinginannya agar salah satu kawasan di Jakarta ditata menyerupai Myeongdong, kawasan wisata belanja dan kuliner yang menjadi ikon di Seoul, Korea Selatan. Gagasan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya pemerintah provinsi mengembangkan kawasan wisata perkotaan yang ramah pejalan kaki, hidup pada malam hari, dan mampu menahan kunjungan wisatawan lebih lama.

Myeongdong dikenal sebagai kawasan pedestrian yang padat oleh pertokoan kosmetik, mode, gerai makanan, serta pertunjukan jalanan. Kawasan itu menjadi rujukan banyak kota karena mampu memadukan belanja, kuliner, dan ruang publik dalam satu koridor yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki serta terhubung langsung dengan jaringan transportasi massal.

Myeongdong sebagai Acuan Penataan

Dalam sejumlah kesempatan, Pramono menegaskan bahwa Jakarta membutuhkan kawasan wisata yang memiliki identitas kuat dan dapat dikunjungi tanpa bergantung pada kendaraan pribadi. Menurutnya, Myeongdong bukan sekadar pusat belanja, melainkan ekosistem yang menghubungkan pedagang kecil, pelaku usaha kuliner, penyedia jasa, dan pengelola ruang publik.

Karena itu, ia menilai penataan kawasan tidak cukup dilakukan dengan memperbaiki trotoar atau memasang lampu hias. Diperlukan pengelolaan terpadu yang mencakup ketertiban pedagang, kebersihan, keamanan, pengaturan lalu lintas, hingga penjadwalan kegiatan seni dan budaya agar kawasan tetap menarik pada berbagai waktu.

Pemerintah provinsi disebut akan mempelajari pengalaman Seoul, termasuk cara mengatur pedagang kaki lima agar tetap tertib tanpa mematikan usaha warga. Di Myeongdong, pedagang makanan jalanan beroperasi pada lokasi dan jam tertentu dengan standar kebersihan yang diawasi ketat, sementara jalur pejalan kaki tetap terbuka.

Komponen yang Disiapkan

1. Penataan pejalan kaki dan pembatasan kendaraan

Salah satu unsur utama yang ingin diadopsi adalah perluasan ruang bagi pejalan kaki. Penataan semacam ini biasanya disertai pembatasan kendaraan bermotor pada jam-jam tertentu, pelebaran trotoar, penyediaan jalur yang ramah bagi pengguna kursi roda, serta penempatan penerangan yang memadai.

2. Penataan pedagang dan usaha mikro

Pramono menekankan pentingnya melibatkan usaha mikro, kecil, dan menengah sebagai bagian dari kawasan wisata. Penataan diarahkan agar pedagang memperoleh lokasi usaha yang layak, terjangkau, dan tidak saling menutup akses. Penataan juga diharapkan mencegah praktik pungutan liar yang selama ini menjadi keluhan pedagang.

3. Kebersihan dan fasilitas publik

Kawasan wisata yang ramai menuntut kesiapan fasilitas seperti tempat sampah terpisah, toilet umum, ruang laktasi, pos kesehatan, dan petugas kebersihan yang bekerja hingga malam. Tanpa kesiapan itu, kawasan berpotensi cepat kumuh ketika jumlah pengunjung meningkat.

4. Kegiatan seni dan ekonomi malam

Agar tidak bergantung pada belanja, kawasan diarahkan menghadirkan pertunjukan musik jalanan, pameran seni, dan pasar malam secara berkala. Kegiatan semacam ini dinilai memperpanjang waktu kunjungan dan membuka peluang pendapatan tambahan bagi warga sekitar.

5. Konektivitas transportasi

Keberhasilan Myeongdong tidak terlepas dari kemudahan akses. Karena itu, penataan kawasan di Jakarta perlu disambungkan dengan layanan angkutan umum, jalur pejalan kaki dari halte atau stasiun terdekat, serta area parkir terpusat agar kendaraan tidak memenuhi badan jalan.

Tantangan di Jakarta

Meski gagasan itu mendapat respons positif dari sebagian warga dan pelaku usaha, penerapannya di Jakarta menghadapi sejumlah tantangan. Kepadatan lalu lintas di sekitar kawasan komersial, keterbatasan lahan, serta keberadaan pedagang yang telah lama berjualan menjadi persoalan yang harus diselesaikan melalui dialog.

Pengamat tata kota juga mengingatkan agar penataan tidak mendorong kenaikan harga sewa yang berlebihan hingga menyingkirkan usaha kecil. Selain itu, keberlanjutan pengelolaan menjadi kunci, sebab banyak kawasan wisata di kota besar mengalami penurunan kunjungan setelah masa penataan awal selesai.

Aspek lain yang disorot adalah ketertiban dan keamanan. Kawasan wisata malam membutuhkan pengawasan yang konsisten, penerangan yang cukup, serta koordinasi antara petugas satuan polisi pamong praja, kepolisian, dan pengelola kawasan.

Dampak yang Diharapkan

Pemerintah provinsi berharap penataan kawasan dapat mendorong perputaran ekonomi bagi warga, membuka lapangan kerja baru, dan memperkuat sektor pariwisata Jakarta. Kawasan yang tertata juga dinilai dapat menarik kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus menambah pilihan rekreasi bagi warga ibu kota.

Pramono menegaskan bahwa penataan akan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan masyarakat, pelaku usaha, dan pihak terkait. Evaluasi berkala diperlukan agar hasil penataan benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga, bukan hanya meniru tampilan kawasan wisata di luar negeri.

Hingga kini, rencana tersebut masih berada pada tahap pembahasan dan penyusunan konsep. Detail lokasi, tahapan, serta anggaran disebut akan ditentukan setelah kajian selesai dilakukan bersama perangkat daerah terkait.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hendra Hartono

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter