30, 2026
Nasional

Survei Terbaru: Anak Perempuan Lebih Jago Membaca Dibanding Laki-Laki

Kemampuan membaca siswa perempuan kembali menunjukkan keunggulan dibandingkan siswa laki-laki.]]>

Teguh Setiawan
Teguh Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Survei Terbaru: Anak Perempuan Lebih Jago Membaca Dibanding Laki-Laki

Survei Terbaru: Anak Perempuan Lebih Jago Membaca Dibanding Laki-Laki

Sebuah survei nasional terbaru yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Pendidikan dan Kebijakan (LP2K) menunjukkan hasil mengejutkan terkait kemampuan membaca anak usia sekolah di Indonesia. Survei yang melibatkan lebih dari 10.000 siswa dari berbagai provinsi ini mengungkap bahwa anak perempuan secara signifikan menunjukkan kemampuan membaca yang lebih baik dibandingkan anak laki-laki pada usia dini hingga remaja.

Temuan Utama Survei

Berdasarkan survei yang dilakukan selama enam bulan terakhir, anak perempuan menunjukkan performa yang unggul dalam berbagai aspek kemampuan membaca. Sebanyak 78% anak perempuan usia 7-12 tahun di Indonesia berhasil mencapai tingkat literasi dasar yang memadai, sementara hanya 62% anak laki-laki yang menunjukkan kemampuan serupa. Selisih ini menjadi semakin mencolok pada tingkat pendidikan menengah, di mana 83% siswa perempuan mampu memahami teks kompleks, dibandingkan dengan 71% siswa laki-laki.

Kepala LP2K, Dr. Siti Rahayu, menjelaskan bahwa survei ini merupakan yang pertama kali mengukur kemampuan membaca secara komprehensif di tingkat nasional. "Kami menemukan pola yang konsisten di seluruh provinsi, baik di perkotaan maupun pedesaan. Anak perempuan cenderung lebih cepat menguasai kemampuan dasar membaca dan mampu mengembangkan keterampilan tersebut dengan lebih baik seiring berjalannya waktu," ujarnya dalam konferensi pers yang diselenggarakan kemarin.

Faktor Penyebab Perbedaan

Beberapa faktor yang ditemukan menjadi pembeda antara kemampuan membaca anak perempuan dan laki-laki. Salah satunya adalah minat baca yang lebih tinggi pada anak perempuan. Survei menunjukkan bahwa 65% anak perempuan menyatakan suka membaca buku fiksi cerita, sementara hanya 42% anak laki-laki yang memiliki minat serupa. Minat ini diyakini menjadi pemicu utama pengembangan kemampuan membaca yang lebih baik.

Selain itu, faktor sosial dan budaya juga berperan signifikan. "Budaya membaca seringkali lebih ditanamkan pada anak perempuan sejak dini. Orang tua cenderung memberikan buku cerita sebagai hadiah atau hiburan bagi anak perempuan, sementara anak laki-laki lebih sering didorong untuk bermain olahraga atau aktivitas fisik lainnya," jelas Prof. Budi Santoso, psikolog pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta yang terlibat dalam survei ini.

Metode pembelajaran di sekolah juga menjadi faktor pengaruhi. Survei mengungkap bahwa 70% guru SD menggunakan cerita dongeng dan novel ringan sebagai media pembelajaran membaca, yang umumnya lebih menarik bagi anak perempuan. Sementara itu, materi pembelajaran untuk anak laki-laki yang berorientasi pada olahraga, sains, dan teknologi seringkali kurang memadai dalam mengembangkan kemampuan membaca.

Dampak Jangka Panjang

Perbedaan kemampuan membaca ini berdampak signifikan pada prestasi akademik siswa di jenjang yang lebih tinggi. Data yang dikumpulkan oleh LP2K menunjukkan bahwa siswa perempuan cenderung memiliki nilai mata pelajaran bahasa Indonesia yang lebih baik, dengan rata-rata nilai 8.2 dibandingkan siswa laki-laki yang rata-ratanya 7.5. Selain itu, siswa perempuan juga cenderung lebih aktif dalam kegiatan literasi seperti membaca puisi, naskah drama, dan artikel ilmiah.

"Kemampuan membaca yang baik menjadi fondasi utama untuk keberhasilan akademik di semua mata pelajaran. Siswa yang mampu membaca dengan baik cenderung lebih mudah memahami konsep di mata pelajaran lain seperti matematika dan IPA," tambah Dr. Siti Rahayu.

Upaya untuk Memperkecil Selisih

Menghadapi temuan ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana merumuskan kebijakan baru untuk memperkecil selisih kemampuan membaca antara siswa perempuan dan laki-laki. "Kami akan mengembangkan kurikulum yang lebih inklusif dan materi pembelajaran yang lebih menarik bagi siswa laki-laki. Selain itu, kami juga akan meningkatkan pelatihan guru untuk menggunakan metode pembelajaran yang efektif bagi semua jenis kelamin," jelas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Dasar, Kemdikbud, dalam keterangannya.

LP2K juga merekomendasikan agar orang tua dan pendidik lebih memperhatikan minat anak laki-laki dalam membaca. "Perlu adanya pendekatan yang berbeda dalam menumbuhkan minat baca pada anak laki-laki. Mereka mungkin lebih tertarik pada buku komik, buku sains, atau materi digital interaktif yang dapat menjadi pintu masuk untuk mengembangkan kemampuan membaca," kata Prof. Budi Santoso.

Survei ini diharapkan menjadi dasar bagi perbaikan sistem pendidikan di Indonesia dalam menciptakan generasi yang memiliki literasi tinggi, tanpa memandang perbedaan jenis kelamin. Kementerian Pendidikan berjanji akan melakukan survei serangkaian survei rutin untuk memantau perkembangan kemampuan literasi siswa di seluruh Indonesia.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Teguh Setiawan

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter