20, 2026
Nasional

Transportasi Umum Jakarta Peringkat 15 Terbaik Dunia, Ranking 2 di ASEAN

Citra Anggraini
Citra Anggraini Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Jakarta menempati posisi ke-15 dalam pemeringkatan kota dengan transportasi umum terbaik di dunia dan peringkat kedua di ASEAN. Capaian itu menjadi sorotan karena menempatkan ibu kota Indonesia dalam kelompok kota yang dinilai memiliki sistem angkutan publik cukup maju, sekaligus menunjukkan bahwa kawasan Asia Tenggara memiliki kota-kota dengan kualitas layanan transportasi yang kompetitif.

Posisi ke-15 di tingkat dunia dan kedua di ASEAN memberi gambaran bahwa Jakarta telah bergerak lebih jauh dibandingkan sejumlah kota besar lain di kawasan. Dalam beberapa tahun terakhir, Jakarta memang mengalami perubahan signifikan pada lanskap transportasi publik, mulai dari beroperasinya moda berbasis rel hingga integrasi layanan antarmoda yang menyasar pengguna harian. Meski demikian, capaian dalam pemeringkatan tidak otomatis berarti seluruh persoalan transportasi di Jakarta telah selesai.

Peringkat global dan posisi di ASEAN

Pemeringkatan transportasi umum biasanya menilai sejumlah indikator, antara lain jangkauan jaringan, keterjangkauan tarif, kenyamanan, keamanan, keandalan waktu tempuh, integrasi antarmoda, serta aksesibilitas bagi kelompok pengguna tertentu. Dalam konteks itu, posisi Jakarta di peringkat 15 dunia menunjukkan adanya pengakuan terhadap upaya pembenahan yang dilakukan dalam satu dekade terakhir.

Di ASEAN, Jakarta berada di posisi kedua. Posisi tersebut menempatkan Jakarta di atas sejumlah kota besar lain di Asia Tenggara, meskipun masih terdapat satu kota di kawasan yang menempati peringkat lebih tinggi. Persaingan antar kota di ASEAN dalam penyediaan transportasi publik semakin ketat seiring pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan meningkatnya kebutuhan mobilitas. Kota-kota di kawasan berlomba memperluas jaringan rel, memperbaiki layanan bus, serta mengembangkan sistem pembayaran dan informasi perjalanan berbasis digital.

Bagi Jakarta, posisi kedua di ASEAN dapat dibaca sebagai modal sekaligus tantangan. Modal karena capaian itu memperkuat citra Jakarta sebagai kota dengan layanan transportasi yang semakin tertata. Tantangan karena posisi tersebut menuntut konsistensi dalam menjaga kualitas layanan, terutama ketika jumlah penumpang terus meningkat dan beban jalan semakin berat.

Transformasi layanan yang mendorong penilaian

Sejumlah faktor menjadi pendorong utama penilaian positif terhadap transportasi publik Jakarta. Kehadiran MRT Jakarta, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, TransJakarta, KRL Commuter Line, serta layanan angkutan pengumpan yang terintegrasi melalui skema Jak Lingko telah memperluas pilihan moda bagi warga. Berbagai layanan itu tidak hanya melayani perjalanan jarak jauh, tetapi juga menjadi penghubung bagi pengguna yang melakukan perjalanan antarmoda setiap hari.

Integrasi tarif dan sistem pembayaran turut mempermudah pengguna berpindah dari satu moda ke moda lain. Informasi perjalanan yang semakin mudah diakses, penataan halte dan stasiun, serta pembangunan jalur pejalan kaki di sejumlah kawasan menjadi bagian dari upaya menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih baik. Pemerintah daerah dan pemerintah pusat juga mendorong pembatasan kendaraan pribadi di ruas tertentu, pengembangan jalur sepeda, serta perluasan kawasan beremisi rendah sebagai bagian dari kebijakan mobilitas yang lebih berkelanjutan.

Dari sisi keterjangkauan, tarif transportasi publik Jakarta dinilai relatif kompetitif dibandingkan biaya penggunaan kendaraan pribadi, terutama jika dihitung dengan biaya bahan bakar, parkir, dan waktu yang hilang akibat kemacetan. Kemudahan akses ke layanan digital, seperti aplikasi pemesanan dan pembayaran, juga membuat transportasi publik lebih menarik bagi kelompok pekerja dan generasi muda.

Pekerjaan rumah yang belum selesai

Meski memperoleh penilaian positif, Jakarta masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah. Persoalan first and last mile atau perjalanan dari rumah ke stasiun dan dari stasiun ke tujuan masih menjadi kendala di banyak kawasan. Ketersediaan angkutan pengumpan yang tepat waktu, aman, dan terhubung dengan moda utama belum merata. Di beberapa lokasi, jarak antara halte atau stasiun dengan permukiman dan pusat aktivitas masih cukup jauh, terutama bagi pengguna lanjut usia dan penyandang disabilitas.

Kapasitas angkutan pada jam sibuk juga menjadi tantangan. Kepadatan penumpang di sejumlah moda, terutama pada pagi dan sore hari, menuntut penambahan armada, pengaturan jadwal yang lebih presisi, serta peningkatan fasilitas di stasiun dan halte. Kebersihan, keamanan, dan kenyamanan menjadi faktor yang terus diuji dalam penggunaan harian. Keamanan bagi perempuan dan kelompok rentan, penerangan di area transit, serta aksesibilitas fisik bagi pengguna berkebutuhan khusus masih memerlukan perhatian.

Selain itu, integrasi kelembagaan antara Jakarta dan wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi menjadi kunci. Banyak pengguna transportasi publik Jakarta berasal dari kawasan sekitar yang melakukan perjalanan harian. Tanpa koordinasi lintas wilayah dalam hal rute, tarif, jadwal, dan pembangunan infrastruktur, kualitas layanan dapat terhambat. Pendanaan yang berkelanjutan untuk subsidi dan perawatan infrastruktur juga menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan.

Dampak dan langkah selanjutnya

Peringkat 15 dunia dan posisi kedua di ASEAN berpotensi memperkuat citra Jakarta di mata investor, wisatawan, dan mitra internasional. Penilaian positif dapat menjadi sinyal bahwa Jakarta serius membangun sistem mobilitas yang lebih modern dan terintegrasi. Namun, manfaat itu akan terasa lebih nyata jika didukung oleh perbaikan layanan yang konsisten dan merata, bukan hanya di koridor atau kawasan tertentu.

Pemerintah dan operator transportasi perlu menjadikan capaian ini sebagai dasar evaluasi. Data jumlah penumpang, ketepatan waktu, tingkat kepuasan pengguna, dan insiden keamanan dapat menjadi acuan untuk memperbaiki layanan. Umpan balik warga, termasuk keluhan mengenai keterlambatan, kepadatan, dan aksesibilitas, perlu ditindaklanjuti secara terbuka. Dengan begitu, pemeringkatan tidak berhenti sebagai prestasi simbolik, tetapi menjadi pendorong perbaikan yang berkelanjutan.

Jakarta memiliki peluang untuk mempertahankan bahkan meningkatkan posisinya jika mampu memperluas jangkauan layanan, memperkuat integrasi antarmoda, dan meningkatkan kualitas pengalaman pengguna. Tantangan terbesarnya adalah memastikan transportasi publik menjadi pilihan utama bagi warga, bukan sekadar alternatif ketika kemacetan atau cuaca memaksa. Posisi di peringkat dunia dan ASEAN menjadi penanda bahwa arah pembangunan sudah bergerak positif, tetapi kualitas layanan harian tetap menjadi ukuran yang paling menentukan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Citra Anggraini

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter