20, 2026
Nasional

Lereng Gunung Lawu Kebakaran, Api Meluas ke Arah Jalur Pendakian

Kebakaran hutan melanda lereng Gunung Lawu, Karanganyar, dengan api mendekati jalur pendakian. Upaya water bombing dilakukan untuk mengendalikan situasi.]]>

Taufik Syahputra
Taufik Syahputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Lereng Gunung Lawu Kebakaran, Api Meluas ke Arah Jalur Pendakian

Kebakaran melanda kawasan lereng Gunung Lawu dan api dilaporkan terus merambat hingga mendekati jalur pendakian. Titik api yang awalnya terpantau di area vegetasi kering di bagian lereng kini meluas ke arah timur laut, wilayah yang berbatasan langsung dengan rute yang biasa dilalui pendaki. Asap tebal terlihat dari sejumlah titik pandang di permukiman sekitar kaki gunung, terutama pada siang hingga sore hari ketika embusan angin menguat.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi mengenai luas area yang terbakar maupun penyebab pasti munculnya api. Petugas di lapangan menyebut pemantauan masih berlangsung dan angka luasan akan diperbarui setelah penghitungan di lapangan selesai. Warga di sekitar lereng melaporkan api pertama kali terlihat di bagian perbukitan yang tertutup ilalang dan semak, kemudian menyebar cepat karena bahan bakar alami di permukaan tanah dalam kondisi kering.

Api Merambat ke Arah Jalur Pendakian

Perambatan api ke arah jalur pendakian menjadi perhatian utama karena medan di kawasan tersebut curam dan sulit dijangkau kendaraan. Jalur pendakian Gunung Lawu dikenal memiliki beberapa pos pemeriksaan dengan vegetasi rapat, sehingga api yang masuk ke area ini berpotensi menjalar lebih jauh mengikuti alur punggungan. Petugas mencatat arah rambatan mengikuti pola angin yang bertiup dari lembah menuju lereng atas pada siang hari.

Selain vegetasi kering, faktor kemiringan lereng membuat air sulit mencapai titik api. Percikan api juga dikhawatirkan melompat ke blok vegetasi lain melalui ranting dan dedaunan kering yang beterbangan. Tim di lapangan memprioritaskan pemadaman pada sisi yang berbatasan dengan jalur pendakian agar rambatan tidak memotong rute evakuasi.

Upaya Pemadaman dan Kendala Medan

Pemadaman dilakukan tim gabungan yang terdiri dari petugas kehutanan, penanggulangan bencana, relawan, serta warga setempat. Metode yang digunakan sebagian besar bersifat manual, yakni memukul api dengan alat sederhana dan menyemprotkan air dari sumber terdekat. Kendala utama adalah keterbatasan akses menuju titik api, sehingga peralatan berat sulit dioperasikan dan pasokan air harus diangkut secara bertahap.

Tim juga menyiapkan sekat bakar di beberapa titik untuk memutus jalur rambatan. Pembuatan sekat bakar dilakukan dengan membersihkan vegetasi kering pada jalur tertentu agar api kehilangan bahan bakar. Operasi dilakukan bergiliran karena anggota tim harus beristirahat akibat paparan panas dan asap. Pada malam hari, pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru yang tidak terlihat pada siang hari.

Imbauan bagi Pendaki dan Warga

Masyarakat dan pendaki diimbau tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api di kawasan lereng, termasuk membakar lahan, meninggalkan puntung rokok menyala, dan menyalakan api unggun tanpa pengawasan. Pengelola jalur diminta memperketat pemeriksaan barang bawaan pendaki serta menutup sementara rute yang dinilai berisiko. Warga yang melihat munculnya asap atau titik api baru diminta segera melaporkan ke petugas terdekat agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.

Bagi pendaki yang sudah berada di jalur, disarankan mengikuti arahan petugas dan tidak memisahkan diri dari rombongan. Jalur alternatif perlu dipastikan aman sebelum digunakan, mengingat arah angin dapat berubah dan membawa asap ke rute yang sebelumnya bersih.

Kekeringan dan Beban Ekosistem

Kebakaran di lereng gunung umumnya berkaitan erat dengan kondisi cuaca kering dan akumulasi bahan bakar alami berupa daun, ranting, serta rumput kering. Lapisan bahan organik di permukaan tanah menjadi media yang mudah terbakar dan dapat menahan bara dalam waktu lama, sehingga api berpotensi muncul kembali meski permukaan sudah tampak padam.

Dampak lingkungan yang perlu diwaspadai mencakup kerusakan tutupan vegetasi, terganggunya habitat satwa, serta penurunan kualitas udara di sekitar kawasan. Asap yang terbawa angin dapat mengganggu aktivitas warga, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia. Pemantauan titik panas dan pengecekan lapangan menjadi langkah penting untuk memastikan tidak ada bara yang masih aktif.

Petugas menyatakan status penanganan akan diperbarui seiring perkembangan di lapangan. Prioritas saat ini adalah menahan rambatan api agar tidak semakin masuk ke area jalur pendakian, sekaligus memastikan keselamatan tim pemadam dan warga di sekitar lereng Gunung Lawu.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Taufik Syahputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter