20, 2026
Hiburan

Tren Kidult Economy, Orang Dewasa Rela Habiskan Jutaan Buat Mainan

Fenomena kidult economy menunjukkan orang dewasa kini menghabiskan uang untuk mainan dan hiburan nostalgia.]]>

Taufik Syahputra
Taufik Syahputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Tren Kidult Economy, Orang Dewasa Rela Habiskan Jutaan Buat Mainan

Mainan tidak lagi identik dengan dunia anak-anak. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak orang dewasa yang membelanjakan uangnya untuk membeli mainan, figur koleksi, hingga produk blind box dengan harga yang tidak murah. Fenomena ini dikenal sebagai kidult economy, gabungan dari kata kid dan adult, yang menggambarkan perilaku konsumen dewasa yang tetap mempertahankan minat pada dunia permainan dan budaya pop yang lekat dengan masa kecil.

Di berbagai kota besar, antrean pembeli figur koleksi bukan lagi pemandangan langka. Toko mainan yang dulu identik dengan keluarga dan anak-anak kini dipenuhi pelanggan berusia 20 hingga 40 tahun. Mereka datang untuk memburu karakter favorit, melengkapi koleksi, atau sekadar mencari hiburan di tengah rutinitas kerja yang padat. Nilai pembeliannya pun bervariasi, mulai dari puluhan ribu rupiah untuk satu kotak kecil hingga jutaan rupiah untuk satu figur berskala besar atau edisi terbatas.

Dari Mainan Anak Menjadi Gaya Hidup

Perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Industri hiburan dan mainan global secara aktif memperluas pasar ke segmen dewasa. Produsen mainan konstruksi, misalnya, merilis seri khusus dengan tingkat kesulitan tinggi, tema arsitektur, hingga replika kendaraan yang jelas menyasar konsumen dewasa. Rumah produksi film dan animasi juga menjual produk turunan yang menyasar nostalgia generasi tertentu, bukan hanya anak-anak yang sedang tumbuh.

Koleksi mainan kini berfungsi sebagai penanda identitas. Rak-rak di ruang kerja atau kamar tidur dipenuhi figur yang dipajang dengan pencahayaan khusus, sebagian di antaranya difoto dan diunggah ke media sosial. Bagi sebagian orang, mainan menjadi bagian dari dekorasi ruangan, sekaligus cara menunjukkan selera dan minat pribadi kepada orang lain.

Nostalgia dan Tekanan Hidup sebagai Pemicu

Sejumlah pengamat perilaku konsumen menilai ada dua dorongan utama di balik tren ini. Pertama, nostalgia. Banyak konsumen dewasa membeli kembali mainan yang tidak sempat mereka miliki saat kecil, atau karakter yang menemani masa pertumbuhan mereka. Pembelian itu memberi rasa kepuasan dan semacam penutupan atas keinginan yang tertunda.

Kedua, kebutuhan akan pelepasan stres. Merakit mainan, membuka kemasan, atau menata koleksi disebut memberi efek menenangkan, mirip dengan kegiatan hobi lain. Di tengah tekanan pekerjaan dan tuntutan hidup, aktivitas bermain dinilai menjadi ruang aman yang tidak menuntut target atau hasil.

Blind Box dan Budaya Membuka Kemasan

Salah satu pendorong paling kuat dalam beberapa tahun terakhir adalah model penjualan blind box, yaitu produk yang dijual tanpa keterangan karakter apa yang ada di dalamnya. Konsumen membeli dengan harapan mendapat figur tertentu, dan sering kali harus membeli berkali-kali untuk melengkapi satu seri. Pola ini memunculkan budaya berburu, tukar-menukar antar kolektor, hingga pasar sekunder dengan harga yang jauh di atas harga resmi.

Popularitas format ini juga ditopang konten media sosial. Video proses membuka kemasan menjadi tontonan yang diminati, sehingga mendorong penjualan sekaligus membentuk komunitas baru di antara para kolektor.

Pasar yang Terus Menggeliat

Laporan industri mainan global secara konsisten menempatkan segmen konsumen dewasa sebagai salah satu pendorong pertumbuhan pasar dalam beberapa tahun terakhir. Produsen dan peritel merespons dengan strategi yang lebih terarah: desain kemasan yang lebih rapi, narasi produk yang menyentuh sisi emosional, hingga pengalaman berbelanja yang dirancang seperti acara, bukan sekadar transaksi.

Di sisi lain, tren ini membuka peluang bagi merek lokal dan pelaku usaha kecil. Ilustrator dan perajin di dalam negeri mulai memproduksi figur, art toy, dan aksesori koleksi dengan karakter orisinal. Komunitas kolektor pun tumbuh, ditandai dengan maraknya bazar, pameran, dan sesi tukar koleksi di kota-kota besar.

Ketika Koleksi Berubah Menjadi Aset

Sebagian konsumen tidak lagi membeli mainan semata untuk kepuasan pribadi. Figur edisi terbatas kerap diperlakukan sebagai barang investasi karena nilainya dianggap cenderung naik setelah stok habis. Praktik ini mendorong pembelian dalam jumlah besar, termasuk oleh pihak yang kemudian menjual kembali dengan harga lebih tinggi.

Namun, pandangan bahwa mainan adalah aset yang aman perlu dicermati. Nilai jual kembali sangat bergantung pada popularitas karakter, kelangkaan, dan kondisi barang. Tidak semua produk mengalami kenaikan harga, dan sebagian justru sulit dijual kembali. Biaya penyimpanan serta risiko kerusakan kemasan juga menjadi pertimbangan tersendiri.

Risiko Belanja Impulsif

Kemudahan bertransaksi lewat platform digital membuat pembelian mainan berisiko berubah menjadi kebiasaan impulsif. Mekanisme blind box, diskon waktu terbatas, dan penjualan edisi terbatas dirancang untuk mendorong keputusan cepat. Tanpa pengelolaan keuangan yang baik, pengeluaran untuk hobi dapat membengkak dan mengganggu anggaran rumah tangga.

Karena itu, sejumlah pengamat menyarankan konsumen menetapkan batas pengeluaran bulanan untuk hobi, memisahkannya dari kebutuhan pokok dan dana darurat, serta menghindari pembelian dengan dana pinjaman. Hobi yang menyenangkan, menurut mereka, sebaiknya tidak menimbulkan beban finansial jangka panjang.

Kidult di Indonesia

Di Indonesia, tren ini terlihat jelas di pusat perbelanjaan di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan kota-kota besar lainnya. Toko mainan koleksi kerap menjadi magnet pengunjung, terutama pada akhir pekan. Pembeli tidak hanya berasal dari kalangan berpenghasilan tinggi, tetapi juga pekerja muda yang menyisihkan sebagian penghasilan untuk hobi.

Pasar daring memperluas jangkauan tren ini ke daerah. Kolektor di kota kecil dapat membeli produk dari peritel luar negeri melalui jasa titip atau pengiriman langsung. Di sisi lain, hal ini memunculkan persoalan baru, seperti harga yang melambung akibat biaya pengiriman dan pajak, serta maraknya produk tiruan yang dijual dengan harga mendekati asli.

Antara Hobi dan Konsumerisme

Fenomena kidult economy memperlihatkan pergeseran makna mainan. Dari alat bermain untuk anak, produk ini berubah menjadi barang konsumsi budaya yang menyimpan nilai emosional bagi orang dewasa. Tidak sedikit yang menilai tren ini positif sebagai bentuk ekspresi diri dan sarana menjaga kesehatan mental.

Namun, kritik juga muncul. Sejumlah pihak menilai industri sengaja memanfaatkan nostalgia dan rasa takut kehilangan momen untuk mendorong pembelian berulang. Dalam pandangan ini, kidult economy adalah wajah baru konsumerisme yang dikemas dengan cerita masa kecil.

Terlepas dari perdebatan itu, minat orang dewasa terhadap mainan diperkirakan tidak akan surut dalam waktu dekat. Bagi banyak orang, membeli mainan bukan lagi soal bermain, melainkan cara merawat memori, mengelola stres, dan merayakan hal-hal kecil yang memberi kebahagiaan di tengah hidup yang sibuk.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Taufik Syahputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter