23, 2026
Teknologi

Trump Jadi Bahan Olok-olok Iran, Dipajang bak Tahanan

Iran membuat papan reklame bergambar sosok tiruan Donald Trump di balik jeruji besi sebagai sindiran terhadap Presiden AS.]]>

Bagus Nugroho
Bagus Nugroho Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Trump Jadi Bahan Olok-olok Iran, Dipajang bak Tahanan

Sejumlah kelompok hardline di Iran kembali menjadikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai bahan olok-olok publik. Sebuah instalasi yang menampilkan sosok menyerupai Trump dengan pakaian tahanan dipajang di ruang terbuka di Tehran, menurut laporan media Iran dan foto-foto yang beredar di media sosial pada pekan ini.

Dalam gambar yang beredar, sosok tersebut digambarkan memakai seragam oranye khas narapidana, lengkap dengan rantai dan jeruji besi. Instalasi itu berdiri di area yang biasa digunakan untuk kegiatan publik, sehingga warga dapat melihat dan mengabadikannya dengan kamera ponsel. Sejumlah pengunjung tampak berpose di depan patung tersebut.

Bagian dari Tradisi Propaganda Jalanan

Penampilan sosok Trump sebagai tahanan bukan hal baru dalam lanskap politik jalanan Iran. Selama bertahun-tahun, kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan garis keras, termasuk organisasi mahasiswa Basij dan sejumlah lembaga budaya yang dekat dengan Garda Revolusi, secara rutin memasang poster, billboard, dan instalasi bernuansa anti-Amerika Serikat.

Tradisi serupa muncul setiap tahun dalam peringatan pengambilalihan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tehran pada 4 November 1979. Dalam momentum yang secara resmi disebut Hari Nasional Melawan Kesombongan Global itu, biasanya digelar pawai, pembakaran bendera, serta pameran simbolik yang menggambarkan Amerika Serikat sebagai pihak yang harus dikalahkan.

Pada sejumlah kesempatan sebelumnya, wajah Trump juga muncul dalam mural dan poster di dinding-dinding kota, kadang digambarkan sebagai tokoh yang dihukum, kadang sebagai figur yang tengah menghadapi tekanan politik di dalam negerinya sendiri. Instalasi terbaru ini melanjutkan pola tersebut dengan format yang lebih fisik dan mudah menarik perhatian publik.

Latar Ketegangan yang Belum Mereda

Hubungan Iran dan Amerika Serikat masih berada dalam kondisi tegang. Sejak Washington keluar dari kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi ekonomi, kedua negara nyaris tidak memiliki jalur komunikasi resmi. Sanksi tersebut telah menekan sektor minyak, perbankan, dan perdagangan Iran, sementara Tehran memperluas program pengayaan uraniumnya melewati batas yang disepakati dalam kesepakatan awal.

Ketegangan memuncak pada Januari 2020 ketika serangan pesawat nirawak Amerika Serikat menewaskan Jenderal Qasem Soleimani, komandan Pasukan Quds Garda Revolusi, di Bandara Internasional Baghdad. Peristiwa itu memicu kemarahan besar di Iran dan memperkuat narasi anti-Amerika dalam politik domestik negara tersebut. Sejak itu, simbol-simbol yang merendahkan pejabat Amerika Serikat, termasuk Trump, semakin sering muncul dalam kegiatan publik.

Di sisi lain, pemerintahan Trump pada periode keduanya menerapkan pendekatan yang tetap keras terhadap Tehran, dengan menekankan tekanan maksimum terhadap program nuklir dan pengaruh regional Iran. Pernyataan-pernyataan pejabat Amerika Serikat yang menyinggung kemungkinan tindakan militer mendapat tanggapan keras dari pemerintah Iran maupun dari kelompok-kelompok garis keras di dalam negeri.

Simbol Politik dengan Dampak Terbatas

Meski menarik perhatian media, instalasi semacam ini umumnya dipandang sebagai instrumen politik domestik ketimbang pesan diplomatik resmi. Pemerintah Iran secara formal tidak selalu mengklaim keterlibatan dalam pembuatan instalasi tersebut, dan aksi-aksi simbolik serupa kerap dijalankan oleh organisasi-organisasi yang memiliki otonomi terbatas namun dekat dengan lingkaran kekuasaan.

Pengamat politik Timur Tengah menilai pameran simbolik seperti ini memiliki beberapa fungsi sekaligus. Pertama, memobilisasi dukungan basis pendukung garis keras yang menuntut sikap tegas terhadap Washington. Kedua, mengalihkan perhatian publik dari persoalan ekonomi dalam negeri, seperti inflasi, pengangguran, dan melemahnya nilai mata uang rial. Ketiga, menegaskan identitas politik Iran sebagai kekuatan yang menolak dominasi Amerika Serikat di kawasan.

Namun, dampak nyata terhadap kebijakan luar negeri diperkirakan kecil. Keputusan-keputusan penting mengenai program nuklir, sanksi, dan keamanan regional tetap ditentukan melalui jalur formal, termasuk oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan Kementerian Luar Negeri. Instalasi jalanan tidak memiliki kaitan langsung dengan proses perundingan yang tengah berjalan, baik yang dimediasi Oman maupun melalui saluran tidak resmi lainnya.

Reaksi dan Konteks Regional

Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pemerintahan Trump mengenai instalasi tersebut. Di masa lalu, Washington cenderung mengabaikan aksi-aksi simbolik semacam itu atau menanggapinya dengan pernyataan singkat yang menegaskan sikap tegas terhadap Tehran.

Di dalam negeri Iran sendiri, reaksi publik beragam. Sebagian warga mendukung sebagai bentuk ekspresi kemarahan terhadap kebijakan Amerika Serikat, sementara sebagian lainnya menilai pameran semacam itu tidak produktif dan tidak membantu menyelesaikan persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat. Sejumlah komentator di media sosial Iran mengkritik penggunaan anggaran untuk instalasi politik, meski sumber pendanaannya tidak jelas.

Ketegangan Iran-Amerika Serikat diperkirakan tetap menjadi salah satu faktor utama dalam dinamika keamanan kawasan. Isu program nuklir, sanksi ekonomi, serta konflik di Gaza dan Lebanon terus menjadi titik gesekan yang memengaruhi stabilitas Timur Tengah. Di tengah kondisi itu, aksi-aksi simbolik seperti instalasi di Tehran berfungsi sebagai cermin retorika politik yang keras, meski tidak selalu mencerminkan arah kebijakan yang sebenarnya.

Yang jelas, olok-olok terhadap Trump melalui patung dan poster bukan sekadar ekspresi budaya jalanan. Ia merupakan bagian dari bahasa politik yang telah lama digunakan kedua negara untuk membingkai satu sama lain sebagai lawan, dan bahasa itu kemungkinan masih akan bertahan selama ketegangan diplomatik belum menemukan jalan penyelesaian.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Bagus Nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter