19, 2026
Ekonomi

Video: Bursa Saham RI Terancam Jadi Setara Zimbabwe

Bursa Saham RI Terancam Jadi Setara Zimbabwe]]>

Kirana Utami
Kirana Utami Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Video: Bursa Saham RI Terancam Jadi Setara Zimbabwe

Perbincangan mengenai kondisi pasar saham Indonesia kembali mencuat setelah sebuah video yang membahas prospek Bursa Efek Indonesia beredar luas di media sosial. Dalam pembahasan tersebut, muncul peringatan bahwa pasar modal Tanah Air berpotensi mengalami nasib serupa dengan bursa saham Zimbabwe apabila sejumlah persoalan struktural tidak segera dibenahi. Isu ini menjadi sorotan pelaku pasar di tengah tekanan yang masih membayangi indeks harga saham gabungan dan arus keluar dana asing.

Peringatan itu tidak muncul di ruang hampa. Selama beberapa waktu terakhir, pasar keuangan Indonesia menghadapi kombinasi tekanan eksternal dan domestik, mulai dari ketidakpastian kebijakan suku bunga global, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat dan prospek pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut tercermin pada kinerja indeks yang cenderung tertekan, sementara minat investor untuk menempatkan dana di pasar saham domestik belum pulih sepenuhnya.

Dari Mana Perbandingan Itu Muncul

Zimbabwe kerap dijadikan contoh ekstrem dalam literatur ekonomi karena pengalaman hiperinflasi yang panjang, penerbitan uang secara berlebihan, hingga runtuhnya kepercayaan terhadap sistem keuangan negara tersebut. Bursa saham Zimbabwe sendiri dalam beberapa tahun terakhir tercatat sebagai salah satu pasar dengan imbal hasil paling fantastis apabila diukur dalam mata uang lokal, tetapi hampir seluruh kenaikan itu merupakan cerminan dari depresiasi mata uang dan inflasi, bukan pertumbuhan nilai riil perusahaan.

Dalam konteks itulah perbandingan muncul. Sejumlah pengamat menilai bahwa apabila pelemahan rupiah berlanjut tanpa disertai perbaikan fundamental, maka kenaikan indeks dalam denominasi rupiah bisa kehilangan makna ketika diterjemahkan ke dalam dolar Amerika Serikat. Investor asing yang mengukur kinerja dalam mata uang keras akan melihat nilai portofolionya menyusut, meskipun secara nominal indeks di dalam negeri terlihat stabil atau bahkan naik.

Tekanan yang Sedang Dihadapi Pasar

Beberapa faktor disebut menjadi sumber tekanan. Pertama, arus keluar dana asing dari pasar saham dan obligasi yang berlanjut sepanjang tahun berjalan. Kedua, pelemahan rupiah yang membuat imbal hasil aset Indonesia kurang menarik dibandingkan pasar lain di kawasan. Ketiga, kekhawatiran terhadap kualitas emiten dan tata kelola perusahaan tercatat, termasuk sejumlah kasus yang berujung pada penghentian perdagangan saham dan penghapusan pencatatan.

Selain itu, likuiditas pasar menjadi perhatian tersendiri. Sejumlah saham dengan kapitalisasi besar masih mendominasi nilai transaksi harian, sementara banyak emiten lain hanya diperdagangkan dalam volume kecil. Kondisi ini membuat pasar rentan terhadap gejolak ketika terjadi aksi jual dalam jumlah besar, karena tidak ada cukup penyerap di sisi permintaan.

Respons Otoritas

Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan selama ini menegaskan bahwa berbagai kebijakan yang diterapkan bertujuan memperkuat pasar, bukan melemahkannya. Langkah seperti penyesuaian aturan perdagangan, pengawasan terhadap emiten yang tidak memenuhi kriteria, serta upaya mendorong keterbukaan informasi disebut sebagai bagian dari agenda pendalaman pasar.

Pemerintah juga menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai prioritas. Bank Indonesia disebut terus melakukan langkah untuk menjaga pergerakan rupiah agar mencerminkan kondisi fundamental, termasuk melalui intervensi di pasar valuta asing dan pengelolaan aliran modal. Namun, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa intervensi tanpa perbaikan struktural hanya bersifat sementara.

Bukan Sekadar Angka Indeks

Perbandingan dengan Zimbabwe, meskipun bersifat hiperbolik, menyentuh persoalan yang lebih mendasar: kepercayaan. Pasar saham bertumpu pada keyakinan bahwa nilai aset akan terjaga dalam jangka panjang, hak pemegang saham dihormati, dan informasi yang disampaikan emiten dapat diandalkan. Ketika kepercayaan itu terkikis, partisipasi investor ritel maupun institusi akan menurun, dan biaya pendanaan bagi perusahaan menjadi lebih mahal.

Karena itu, sejumlah analis menilai perdebatan seharusnya tidak berhenti pada retorika perbandingan antarnegara, melainkan diarahkan pada upaya konkret memperbaiki kualitas pasar. Di antaranya penguatan pengawasan terhadap emiten bermasalah, peningkatan jumlah perusahaan tercatat yang sehat dan likuid, serta penyederhanaan regulasi agar lebih mudah dipahami investor.

Yang Perlu Dicermati Investor

Bagi investor, kondisi ini menuntut kehati-hatian. Kinerja indeks dalam rupiah perlu dibaca berdampingan dengan pergerakan nilai tukar, karena imbal hasil riil dapat berbeda jauh dari angka nominal. Diversifikasi lintas sektor dan aset, serta fokus pada emiten dengan arus kas dan tata kelola yang baik, disebut menjadi strategi yang lebih relevan dibandingkan mengejar kenaikan jangka pendek.

Pada akhirnya, perbandingan dengan Zimbabwe lebih tepat diposisikan sebagai peringatan dini ketimbang ramalan. Selisih antara keduanya masih sangat lebar, terutama karena Indonesia memiliki basis industri, sumber daya alam, dan kerangka kebijakan moneter yang jauh lebih mapan. Namun, peringatan itu tetap relevan sebagai pengingat bahwa kepercayaan pasar tidak datang dengan sendirinya dan harus dirawat melalui kebijakan yang konsisten serta penegakan aturan yang tidak pandang bulu.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Utami

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter