Wakil Bupati Gresik mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengoptimalkan pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA). Ajakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat pemantauan kesehatan ibu sejak masa kehamilan hingga anak tumbuh dan berkembang, sekaligus menekan angka kematian ibu dan bayi serta mencegah stunting.
Menurut Wakil Bupati, Buku KIA bukan sekadar dokumen administratif yang diterima ibu saat memeriksakan kehamilan. Buku itu merupakan instrumen pencatatan riwayat kesehatan yang seharusnya dibawa dan ditunjukkan setiap kali ibu atau anak berkunjung ke posyandu, puskesmas, praktik bidan, maupun rumah sakit. Dengan begitu, setiap tenaga kesehatan yang menangani memiliki gambaran utuh mengenai kondisi pasien dan tidak perlu menebak riwayat pemeriksaan sebelumnya.
Ia menilai masih ada sebagian keluarga yang menyimpan Buku KIA begitu saja di rumah dan hanya membawanya pada pemeriksaan tertentu. Pola seperti ini, kata dia, membuat catatan kesehatan anak menjadi tidak lengkap sehingga deteksi dini terhadap gangguan pertumbuhan atau penyakit tertentu menjadi lebih sulit dilakukan.
Fungsi Buku KIA dalam Pemantauan Kesehatan
Buku KIA memuat rangkaian catatan yang saling berkaitan. Di dalamnya tercatat riwayat pemeriksaan kehamilan, hasil pengukuran tekanan darah dan berat badan ibu, status gizi, jadwal imunisasi, hingga catatan persalinan dan masa nifas. Bagian lain berisi grafik pertumbuhan anak, catatan perkembangan, serta panduan pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif dan makanan pendamping ASI.
Informasi bagi Keluarga
Selain menjadi alat komunikasi antara tenaga kesehatan dan keluarga, buku tersebut juga berfungsi sebagai media edukasi. Di dalamnya terdapat informasi mengenai tanda bahaya kehamilan, tanda bayi sakit yang memerlukan penanganan segera, jadwal imunisasi dasar lengkap, serta cara menstimulasi perkembangan anak sesuai kelompok usia. Informasi itu disusun agar dapat dipahami keluarga dengan tingkat pendidikan yang beragam.
Rekam Jejak Lintas Fasilitas Kesehatan
Wakil Bupati menekankan pentingnya kesinambungan pencatatan ketika keluarga berpindah fasilitas pelayanan atau berpindah domisili. Buku KIA, ujarnya, memungkinkan tenaga kesehatan di tempat baru memahami riwayat pasien tanpa harus mengulang pemeriksaan yang sudah dilakukan. Kesinambungan ini dinilai krusial, terutama bagi ibu dengan riwayat komplikasi kehamilan dan anak dengan kebutuhan pemantauan khusus.
Peran Posyandu dan Tenaga Kesehatan
Pemerintah Kabupaten Gresik mendorong posyandu, puskesmas, dan bidan desa untuk aktif memastikan setiap ibu hamil dan anak memiliki Buku KIA serta membawanya pada setiap kunjungan. Kader posyandu diharapkan mengingatkan keluarga agar buku tersebut tidak tertinggal saat kegiatan penimbangan bulanan.
Di sisi lain, tenaga kesehatan diminta konsisten mengisi catatan pada buku tersebut, termasuk hasil pengukuran antropometri dan tindak lanjut rujukan. Pengisian yang tertib dinilai menentukan mutu data yang digunakan pemerintah daerah dalam menyusun perencanaan program kesehatan.
Kontribusi terhadap Penurunan Stunting
Pemanfaatan Buku KIA secara optimal disebut berkaitan erat dengan upaya penurunan prevalensi stunting. Grafik pertumbuhan pada buku tersebut menjadi salah satu alat untuk mengenali anak yang berisiko mengalami gangguan pertumbuhan sejak dini, sehingga intervensi dapat dilakukan lebih cepat.
Kolaborasi Lintas Sektor
Wakil Bupati menyebut penanganan persoalan gizi dan kesehatan ibu-anak tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada dinas kesehatan. Dukungan dari organisasi perangkat daerah lain, tim penggerak PKK, kader dasawisma, hingga lembaga kemasyarakatan di tingkat desa diperlukan agar edukasi mengenai Buku KIA menjangkau keluarga di wilayah terpencil.
Ia juga mengingatkan pentingnya pendampingan bagi keluarga yang belum terbiasa membaca dan memahami isi buku. Kader dan tenaga kesehatan diharapkan tidak hanya menyerahkan buku, tetapi juga menjelaskan cara membaca grafik pertumbuhan dan mengenali tanda bahaya yang tercantum di dalamnya.
Tantangan di Lapangan
Beberapa kendala masih dihadapi dalam pemanfaatan Buku KIA, antara lain buku yang hilang atau rusak, keluarga yang enggan membawa buku karena alasan kepraktisan, serta keterbatasan pemahaman terhadap isi catatan. Pemerintah daerah mendorong fasilitas kesehatan memberikan penggantian bagi buku yang hilang agar pencatatan tetap berjalan.
Perkembangan layanan digital juga disebut membuka peluang untuk melengkapi pencatatan konvensional. Meski demikian, Wakil Bupati menegaskan buku fisik tetap relevan karena dapat dibawa dan dibaca kapan saja, termasuk di daerah dengan keterbatasan jaringan internet.
Ajakan kepada Masyarakat
Wakil Bupati mengajak para orang tua menjadikan Buku KIA sebagai bagian dari kebutuhan harian keluarga, disimpan di tempat yang mudah dijangkau, dan dibawa pada setiap kunjungan ke layanan kesehatan. Ia berharap kesadaran masyarakat meningkat sehingga pemantauan kesehatan ibu dan anak berlangsung berkesinambungan.
Pemerintah Kabupaten Gresik, lanjutnya, akan terus menggencarkan sosialisasi melalui posyandu, pertemuan kader, serta kanal informasi daerah. Evaluasi berkala terhadap capaian pemanfaatan buku tersebut juga disiapkan sebagai dasar perbaikan kebijakan di bidang kesehatan ibu dan anak.
Komentar (0)