09, 2026
Politik

Waspada! Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi

Badan Geologi Kementerian ESDM menyampaikan telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada Kamis, 8 Oktober 2026, pukul 18.28 WIB.]]>

Galih Nasution
Galih Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Waspada! Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi

Waspada! Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi

Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Rabu (15/11) malam, menunjukkan aktivitas vulkanik yang meningkat setelah sebelumnya sempai redam. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa erupsi berlangsung selama delapan menit dan menghasilkan kolom abu setinggi 500 meter di atas puncak gunung.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Gempa (PVMBG) Hendra Gunawan mengatakan bahwa erupsi ini terdeteksi pada pukul 21.15 WIB. "Kami mendeteksi erupsi vulkanik dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 480 detik," jelas Hendra dalam keterangannya, Kamis (16/11).

Erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini tergolong sebagai erupsi freatik, yaitu ledakan yang terjadi ketika magma panas bersentuhan dengan air permukaan. Meskipun intensitasnya tidak sebesar erupsi pada 2018 silam, PVMBG tetap meminta masyarakat tetap waspada dan menjauhi zona bahaya sejauh 3 kilometer dari puncak gunung.

Aktivitas Vulkanik Terus Meningkat

Sejak beberapa bulan terakhir, aktivitas Gunung Anak Krakatau terus menunjukkan peningkatan. PVMBG mencatat terjadi 52 kali gempa tektonik, 271 kali gempa vulkanik dangkal, 15 kali gempa tectonic, dan 2 kali gempa gemuruh dalam sepekan terakhir.

"Parameter vulkanik lainnya menunjukkan adanya peningkatan tekanan di dalam kawah. Ketinggian kolom abu juga bervariasi tergantung kondisi erupsi," tambah Hendra.

Pemerintah Daerah (Pemda) Lampung bersama BPBD telah mempersiapkan langkah-langkah antisipasi, termasuk evakuasi warga di sekitar pesisir jika diperlukan. Kepala BPBD Provinsi Lampung, Arinal Djunaidi, mengatakan pihaknya telah mengaktifkan posko darurat dan memantau perkembangan situasi secara berkala.

Riwayat Erupsi dan Dampaknya

Gunung Anak Krakatau merupakan anak hasil dari letusan Gunung Krakatau pada 1883 yang dahsyat. Letusan tersebut mengakibatkan tsunami besar dan merenggut ribuan jiwa di pesisir Jawa dan Sumatra.

Pada Desember 2018, Gunung Anak Krakatau kembali meletus dengan sangat dahsyat dan mengakibatkan tsunami yang melanda pesisir Banten dan Lampung. Tragedi itu menewaskan lebih dari 400 orang dan membuat pulau hampir lenyap akibat longsoran material vulkanik ke laut.

Setelah insiden 2018, PVMBG menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level II (Waspada) hingga saat ini. Pihak terus memantau aktivitas gunung dan memberikan update secara berkala kepada masyarakat.

Upaya Mitigasi dan Kesiapsiagaan

Untuk mengantisipasi potensi bencana, pemerintah telah membangun sistem peringatan dini tsunami di sekitar Selat Sunda. Sistem ini terdiri dari 20 buoy (pelampung) sensor yang mampu mendeteksi perubahan permukaan air secara real-time.

"Sistem peringatan dini tsunami sudah kita uji coba dan terbukti efektif. Jika terjadi aktivitas vulkanik yang berpotensi mengakibatkan longsoran ke laut, sistem ini akan memberikan peringatan kepada masyarakat dalam hitungan menit," jelas Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari.

Selain itu, pemerintah juga melakukan pembinaan kepada masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana. Masyarakat dilatih tentang cara evakuasi yang tepat dan persiapan darurat jika terjadi erupsi atau tsunami.

Saran bagi Masyarakat

PVMBG menyarankan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau untuk tetap waspada dan mematuhi anjuran pemerintah. Para wisatawan juga diminta tidak mendekati kawasan pantai di sekitar Selat Sunda.

Pihak berwenang akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan akan memberikan update jika ada perubahan status gunung. Saat ini, status gunung masih tetap pada Level II (Waspada) dengan jarak aman 3 kilometer dari puncak.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Galih Nasution

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter