30, 2026
Nasional

Erupsi Anak Krakatau, BMKG Sebut Peluang Muncul Tsunami di Bawah 40 Persen

Galih Nasution
Galih Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Erupsi Anak Krakatau, BMKG Sebut Peluang Muncul Tsunami di Bawah 40 Persen

Pemerintah melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegarkan kembali peringatan dini terkait aktivitas Anak Krakatau yang kembali mengalami erupsi. Meski begitu, BMKG menyatakan peluang munculnya akibat tsunami akibat erupsi tersebut masih di bawah 40 persen.

Erupsi Anak Krakatau terdeteksi pada Rabu (15/11) sekira pukul 18.00 WIB. Erupsi tersebut disertai dengan kolom abu setinggi 500-800 meter di atas puncak gunung. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Aldian, menjelaskan bahwa erupsi ini termasuk dalam kategori sedang.

"Kami monitoring erupsi Anak Krakatau dengan intensitas sedang. Kolom abu teramati setinggi 500-800 meter dari puncak gunung. Arah terseduh abu menuju barat daya," ujar Aldian dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Kamis (16/11).

Analisis BMKG Soal Potensi Tsunami

Meski erupsi telah terjadi, BMKG memberikan penjelasan bahwa peluang terjadinya tsunami akibat erupsi Anak Krakatau relatif rendah. Menurut data yang diperoleh, probabilitas tsunami akibat erupsi tersebut diperkirakan berada di bawah 40 persen.

"Berdasarkan analisis kami, peluang tsunami akibat erupsi Anak Krakatau saat ini masih di bawah 40 persen. Namun, kami tetap memantau perkembangannya secara intensif," jelas Aldian.

Berdasarkan sejarah, erupsi Anak Krakatau pada 2018 sempat memicu tsunami yang menewaskan ratusan orang di pesisir Banten dan Lampung. Kejadian tersebut menjadi pelajaran bagi pihak BMKG untuk terus meningkatkan sistem pemantauan dan peringatan dini.

Status Siaga di Wilayah Terdampen Potensi

Sebagai antisipasi, Pemerintah Daerah (Pemda) sekitar Selat S telah menetapkan status siaga gunungapi. Warga di wilayah pesisir yang berdekatan dengan Anak Krakatau diminta untuk waspada dan memperhatikan informasi resmi dari BMKG.

"Kami telah mengimbau masyarakat di sekitar wilayah Selat S untuk tetap tenang namun waspada. Jika ada perubahan kondisi, akan segera disampaikan kepada masyarakat," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten, Ahmad Fauzi.

Di wilayah Lampung, pihak berwenang telah menyiapkan beberapa titik evakuasi darurat. Titik-titik tersebut berlokasi di ketinggian yang aman dari potensi tsunami dan erupsi gunung.

Mekanisme Terbentuknya Tsunami Akibat Erupsi Gunung

Tsunami akibat erupsi gunung berapi terjadi ketika letusan menyebabkan longsoran material masuk ke dalam laut dengan volume besar dan kecepatan tinggi. Hal ini menciptakan gelombang besar yang merambat dengan cepat menuju pesisir.

"Anak Krakatau memiliki potensi untuk menyebabkan tsunami jika terjadi longsoran besar ke laut. Oleh karena itu, kami terus memantau deformasi permukaan gunung dan aktivitas gempa bumi di sekitarnya," tambah Aldian.

Sistem pemantauan yang dilakukan BMKG meliputi pemantauan deformasi permukaan gunung, gempa vulkanik, gempa tectonic, serta pergerakan material di lereng gunung. Data tersebut kemudian dianalisis untuk menilai potensi bahaya.

Upaya Mitigasi Bencana

Pemerintah melalui BMKG dan BPBD berupaya melakukan mitigasi bencana dengan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui sosialisasi kepada masyarakat tentang tanda-tanda awal terjadinya tsunami dan cara evakuasi yang tepat.

"Kami juga melakukan simulasi tsunami secara berkala agar masyarakat tahu apa yang harus dilakukan jika bencana benar-benar terjadi. Selain itu, kami juga mempersiapkan alat komunikasi darurat untuk menyampaikan informasi secara cepat," ujar Fauzi.

Di sisi lain, BMKG terus meningkatkan sistem peringatan dini tsunami dengan memasang sensor di berbagai titik di perairan Indonesia. Sensor tersebut mampu mendeteksi pergerakan air laut secara real time.

Kondisi Anak Krakatau Saat Ini

Menurut data terakhir, aktivitas Anak Krakatau terus dipantau oleh tim vulkanologi BMKG. Gunung tersebut masih berada pada level waspa II (siaga) dengan aktivitas vulkanik yang meningkat.

"Kami mendeteksi adanya gempa vulkanik yang terus terjadi di sekitar Anak Krakatau. Frekuensinya bervariasi, namun secara umun menunjukkan adanya aktivitas magma di dalam gunung," jelas Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG) BMKG, Hendra Gunawan.

Pihak BMKG menyarankan masyarakat untuk tidak mendekati area radius 3 kilometer dari puncak Anak Krakatau, serta menghindari aktivitas di sekitar pantai dekat gunung tersebut. Selain itu, wisatawan juga diminta untuk tidak berlayar terlalu dekat dengan kawasan gunung berapi tersebut.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Galih Nasution

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter