Gempa M 5,2 Guncang Tahuna Kepulauan Sangihe Sulut
Gempa bumi dengan magnitudo 5,2 mengguncang wilayah Tahuna di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Rabu (15/3) pagi. Gempa yang berpusat di laut dangkal ini menimbulkan kepanikan di masyarakat setempat, namun hingga berita ini disusun belum ada laporan korban jiwa atau kerusakan signifikan akibat gempa tersebut.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 07:45 WIT dengan pusat gempa berada di laut 46 kilometer barat laut Tahuna. Kedalaman gempa diperkirakan mencapai 10 kilometer, yang menandakan gempa bersifat dangkal.
Kepala Pusat Data dan Informasi BMKG, Mertojudo, mengatakan bahwa gempa ini disebabkan oleh aktivitas sesar lokal di wilayah tersebut. "Gempa ini merupakan aktivitas sesar yang ada di wilayah laut Sangihe. Meskipun magnitudonya cukup besar, dampaknya di darat terbatas karena lokus gempa berada di laut," ujar Mertojudo.
Warga di sekitar Pantai Amurang dan Tahuna melaporkan merasakan gempa yang cukup kuat. Getaran gempa dirasakan selama sekitar 15-20 detik dan menyebabkan banyak warga panik dan segera meninggalkan rumah mereka menuju lokasi terbuka untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Sedang sarapan tiba-tiba rumah goyang-goyang, piring di dapur berbuny keras. Saya langsung keluar bersama istri dan anak-anak karena takut terjadi sesuatu," kata Hasan, warga setempat.
Pasca gempa, BPBD Sulawesi Utara segera melakukan pendatakan potensi kerusakan dan memberikan edaran kepada masyarakat untuk tetap tenang. Kepala BPBD Sulawesi Utara, Muhammad Thamrin, mengatakan tim sudah diterjunkai ke lokasi untuk melakukan monitoring.
"Kami sudah mengirimkan tim ke beberapa titik di Tahuna dan sekitarnya untuk memastikan kondisi di lapangan. Untuk sementara belum ada laporan kerusakan signifikan atau korban jiwa. Namun, kami tetap waspada karena potensi gempa susulan masih ada," ujar Thamrin.
Potensi Gempa Susulan dan Ancaman Tsunami
BMKG menyatakan bahwa gempa ini memiliki potensi gempa susulan namun dengan magnitudo yang lebih kecil. "Kami mendeteksi 9 kali gempa susulan dengan magnitudo di bawah 3,0. Potensi gempa susulan dengan magnitudo lebih besar masih ada meskipun kecil," jelas Mertojudo.
Mengenai potensi tsunami, BMKG menyatakan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami. Kriteria gempa yang berpotensi tsunami umumnya memiliki magnitudo di atas 6,5 dan berpusat di laut dengan kedalangan kurang dari 30 kilometer.
"Meskipun tidak berpotensi tsunami, kami tetap mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi gempa susulan. Jika merasakan getaran yang kuat lagi, segera evakuasi ke tempat yang lebih tinggi," tambah Mertojudo.
Kondisi Geografis Sangihe Rawan Gempa
Kepulauan Sangihe merupakan daerah yang rawan gempa bumi karena terletak di pertemuan lempeng tektonik. Wilayah ini merupakan bagian dari Cincin Api Pasifik, sebuah area dengan aktivitas vulkanik dan seismik yang tinggi.
"Lokasi gempa berada di dekat batas lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik. Di daerah ini terdapat banyak patahan aktif yang menyebabkan aktivitas gempa yang sering terjadi," jelas Kepala Divisi Geofisika BMKG, Haryugo.
Sejarah gempa di Kepulauan Sangihe menunjukkan bahwa wilayah ini pernah diguncang gempa dengan magnitudo lebih besar. Pada tahun 2019, gempa dengan magnitudo 6,5 mengguncang wilayah ini dan menyebabkan kerusakan beberapa bangunan di Tahuna.
Pemerintah Daerah Sulawesi Utara bersama BMKG terus melakukan sosialisasi penanggulangan bencana gempa bagi masyarakat di Kepulauan Sangihe. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana alam yang sering terjadi di wilayah tersebut.
Respons Pemerintah dan Evakuasi Sementara
Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey, segera mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti arahan pihak berwenang. "Kami sudah koordinasi dengan BPBD dan instansi terkait untuk memastikan tidak ada korban jiwa dan kerusakan signifikan. Untuk sementara, beberapa fasilitas umum sudah dicek keamanannya," kata Olly.
Beberapa sekolah di Tahuna yang berada di area terdampak getaran gempa sementara ditutup untuk melakukan pengecekan struktur bangunan. "Keselamatan siswa dan guru menjadi prioritas utama. Kami akan buka kembali setelah bangunan dinyatakan aman," ujar Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Tim SAR juga diterjunkan untuk melakukan pemantauan di beberapa pulau kecil di sekitar lokasi gempa. "Kami khawatir ada pulau kecil yang mungkin mengalami dampak lebih parah karena jaraknya lebih dekat dengan pusat gempa," jelas Juru Bicara Basarnas Sulawesi Utara.
Warga di beberapa wilayah yang merasakan gempa cukup kuat diminta untuk tidak kembali ke rumah mereka sementara waktu. "Beberapa bangunan tua di area pesisir mungkin mengalami kerusakan ringan. Kami akan lakukan evaluasi lebih lanjut," tambah Kepala BPBD Tahuna.
Dengan kondisi geografis yang rawan bencana, masyarakat Kepulauan Sangihe terus diingatkan untuk selalu waspada dan mempersiapkan diri menghadapi potensi gempa bumi yang bisa terjadi kapan saja.
Komentar (0)