30, 2026
Nasional

Guruh Soekarnoputra, Putra Soekarno yang Setia di Jalur Parlemen

Teguh Syahputra
Teguh Syahputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Guruh Soekarnoputra menempati posisi tersendiri dalam lanskap politik Indonesia sebagai putra Presiden pertama Soekarno yang memilih berkarier di jalur parlemen. Figur kelahiran 13 Januari 1953 ini dikenal sebagai politikus yang konsisten menekankan pentingnya gagasan kebangsaan, warisan politik sang ayah, dan peran lembaga legislatif dalam kehidupan demokrasi.

Karier politik Guruh berjalan seiring dengan perjalanan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Ia tercatat beberapa kali dipercaya menduduki kursi Dewan Perwakilan Rakyat dari daerah pemilihan Jawa Timur, wilayah yang memiliki ikatan historis kuat dengan keluarga Soekarno. Posisi itu membuatnya menjadi salah satu suara yang kerap berbicara mengenai isu kebudayaan, pendidikan, serta pemajuan nilai-nilai Pancasila di ruang legislatif.

Latar Keluarga dan Pendidikan Seni

Guruh lahir di Jakarta sebagai anak termuda dari sembilan anak Soekarno. Masa kecil dan remajanya berlangsung dalam dinamika politik yang keras, terutama setelah peristiwa 1965 yang mengubah total posisi keluarga presiden pertama. Pengalaman itu membentuk cara pandang Guruh terhadap politik: ia lebih memilih peran yang bersifat kultural dan legislatif ketimbang menduduki jabatan eksekutif.

Sebelum menekuni politik, Guruh lama berkecimpung di dunia seni. Ia menempuh pendidikan di luar negeri dan mendalami tari, musik, serta koreografi. Kelompok kesenian yang dikelolanya beberapa kali mementaskan karya yang mengangkat tema kebangsaan. Latar belakang seni inilah yang membuatnya berbeda dari sebagian besar politikus yang berlatar belakang organisasi massa atau birokrasi.

Kedekatan dengan dunia seni tidak lepas dari pengaruh keluarga. Soekarno dikenal sebagai tokoh yang menaruh perhatian besar pada seni dan arsitektur. Guruh sering menyebut bahwa sang ayah menanamkan keyakinan bahwa kebudayaan adalah salah satu fondasi utama sebuah bangsa. Prinsip itu kemudian menjadi ruh dari berbagai kebijakan yang ia dorong saat berada di parlemen.

Jejak di Lembaga Legislatif

Sebagai anggota DPR, Guruh aktif di komisi yang menangani bidang pendidikan, kebudayaan, riset, dan teknologi. Ia beberapa kali membahas pentingnya perlindungan terhadap warisan budaya, penguatan pendidikan karakter, serta pembinaan kesenian tradisional. Dalam berbagai rapat kerja, ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari keberhasilan menjaga identitas budaya.

Meski jarang tampil dalam sorotan media arus utama, Guruh tergolong aktif dalam forum-forum internal partai. Ia kerap dianggap sebagai penjaga narasi historis keluarga Soekarno di lingkungan PDI Perjuangan. Posisi itu membuatnya sering dimintai pandangan ketika partai membahas isu-isu ideologis atau menyusun platform kebudayaan.

Guruh juga dikenal sebagai politikus yang tidak gemar menyampaikan pernyataan kontroversial. Gayanya cenderung tenang, reflektif, dan menjauh dari konflik terbuka. Sejumlah pengamat menilai pendekatan itu sebagai bentuk kesetiaan pada cara politik yang menekankan dialog dan penghormatan terhadap institusi.

Dinamika Politik dan Posisi Keluarga

Posisi Guruh sebagai putra Soekarno tidak selalu mudah. Nama besar sang ayah membawa ekspektasi tinggi sekaligus beban politik. Dalam beberapa periode, relasi antara keluarga Soekarno dan kekuasaan nasional menjadi isu yang sensitif. Guruh memilih tetap berada di jalur partai dan parlemen, sebuah pilihan yang dinilai sebagai upaya menjaga warisan politik tanpa harus masuk ke pusaran konflik kekuasaan.

Pilihan itu juga membuatnya relatif bertahan lama di dunia politik dibandingkan sebagian saudaranya yang mengambil jalur berbeda. Ia tidak pernah tercatat menduduki jabatan menteri atau kepala daerah. Fokusnya tetap pada kerja legislatif dan aktivitas kesenian yang dijalaninya secara paralel.

Pada beberapa pemilihan umum terakhir, nama Guruh tetap muncul dalam daftar calon legislatif dari PDI Perjuangan untuk daerah pemilihan Jawa Timur. Perolehan suaranya menunjukkan bahwa basis dukungan terhadap nama Soekarno masih cukup nyata, terutama di wilayah-wilayah yang secara historis dekat dengan Partai Nasional Indonesia.

Warisan Gagasan

Dalam berbagai kesempatan, Guruh menekankan tiga hal yang menurutnya menjadi inti warisan sang ayah: nasionalisme, keberpihakan pada rakyat kecil, dan penghargaan terhadap kebudayaan. Ia menilai ketiga hal itu tidak boleh dipisahkan dari praktik politik sehari-hari, termasuk dalam penyusunan anggaran dan perumusan undang-undang.

Guru besar dan sejumlah sejarawan menempatkan Guruh sebagai bagian dari generasi penerus gagasan Soekarno yang memilih bekerja dari dalam sistem. Perannya lebih sebagai penyambung narasi ketimbang sebagai penggerak utama kebijakan nasional. Namun, keberadaannya di parlemen tetap memberi warna tersendiri bagi perdebatan mengenai arah kebudayaan dan pendidikan di Indonesia.

Hingga kini, Guruh Soekarnoputra tetap menjadi salah satu figur yang mewakili kesinambungan politik keluarga Soekarno di panggung nasional. Jalur parlemen yang dipilihnya memperlihatkan bahwa perjuangan politik tidak selalu harus melalui kursi kekuasaan eksekutif, melainkan dapat dijalankan lewat kerja-kerja legislasi dan pelestarian gagasan kebangsaan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Teguh Syahputra

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter