21, 2026
Politik

Industri Pariwisata Cetak Rekor Tertinggi 1 Dekade, Begini Data Menpar

Menteri Pariwisata Widyanti mengungkapkan sektor pariwisata Indonesia menyerap 25,91 juta tenaga kerja pada 2025, tertinggi dalam 10 tahun.]]>

Rizki Setiawan
Rizki Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Industri Pariwisata Cetak Rekor Tertinggi 1 Dekade, Begini Data Menpar

Industri pariwisata nasional mencatat rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir. Kementerian Pariwisata melaporkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang tahun berjalan menembus angka yang belum pernah dicapai sejak 2015, sekaligus melampaui capaian sebelum pandemi. Lonjakan tersebut dinilai menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional di sektor jasa, dengan kontribusi terhadap devisa, lapangan kerja, dan pergerakan usaha mikro di daerah tujuan wisata.

Kunjungan Wisatawan Mancanegara Menembus 13 Juta

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang tahun ini mencapai sekitar 13,9 juta perjalanan, atau naik sekitar 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 11,7 juta kunjungan. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir dan disebut telah melampaui level kunjungan pada 2019 yang menjadi acuan sebelum pandemi.

Kenaikan tidak hanya terjadi pada volume kunjungan, tetapi juga pada rata-rata lama tinggal dan tingkat belanja wisatawan. Wisatawan mancanegara rata-rata tinggal antara 8 hingga 9 hari dengan pengeluaran per kunjungan yang meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pola ini menunjukkan pergeseran dari wisata kunjungan singkat menuju perjalanan berbasis pengalaman, terutama di destinasi alam dan budaya.

Menurut data tersebut, lima pasar sumber utama masih didominasi negara tetangga dan mitra dagang tradisional, yakni Malaysia, Singapura, Australia, Tiongkok, dan Timor Leste. Pasar jarak jauh seperti Eropa dan Amerika Serikat menunjukkan pemulihan yang lebih lambat, namun memberikan kontribusi belanja yang lebih besar per kunjungan.

Devisa dan Dampak Ekonomi

Dari sisi penerimaan negara, sektor pariwisata menyumbang devisa sekitar USD 16,7 miliar sepanjang tahun ini, atau tumbuh signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Penerimaan tersebut berasal dari belanja akomodasi, kuliner, transportasi, serta belanja produk kreatif dan cendera mata di daerah tujuan.

Kementerian Pariwisata menempatkan sektor ini sebagai salah satu penyumbang lapangan kerja terbesar, dengan keterlibatan langsung maupun tidak langsung terhadap lebih dari 20 juta pekerja di subsektor perhotelan, restoran, transportasi wisata, pemandu, dan usaha ekonomi kreatif. Karena sifatnya yang padat karya, pertumbuhan kunjungan dinilai lebih cepat merambat ke perekonomian daerah dibandingkan sektor padat modal.

Wisatawan Domestik Tetap Menjadi Penopang

Selain wisatawan mancanegara, pasar domestik tetap menjadi penopang utama industri. Perjalanan wisatawan nusantara tercatat di kisaran 1 miliar hingga 1,1 miliar perjalanan sepanjang tahun, dengan total belanja yang diperkirakan melewati Rp1.000 triliun. Angka ini menjadikan pasar domestik sebagai bantalan ketika terjadi gejolak pada pasar internasional, misalnya akibat pelemahan ekonomi global atau keterbatasan kapasitas penerbangan.

Pemerintah mencatat bahwa libur panjang dan cuti bersama menjadi pemicu utama lonjakan perjalanan domestik. Destinasi yang paling diuntungkan meliputi kawasan wisata di Jawa, Bali, Sumatra, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara, dengan pola perjalanan yang makin menyebar ke kota-kota kecil dan desa wisata.

Lima Destinasi Super Prioritas

Kontribusi terbesar pertumbuhan juga datang dari lima destinasi super prioritas, yaitu Danau Toba, Borobudur dan sekitarnya, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang. Kelima kawasan tersebut mencatat kenaikan kunjungan seiring perbaikan infrastruktur dasar, penambahan penerbangan, dan penyelenggaraan berbagai even berskala nasional maupun internasional.

Mandalika menjadi salah satu contoh paling menonjol melalui rangkaian even olahraga dan hiburan yang mendorong tingkat hunian hotel. Sementara Labuan Bajo mencatat pertumbuhan pada segmen wisata bahari dan wisata minat khusus. Di Danau Toba, pengembangan kawasan geosite dan desa wisata disebut mulai menarik kunjungan yang lebih merata sepanjang tahun, tidak lagi terpusat pada musim liburan.

Konektivitas dan Penerbangan

Faktor pendorong utama rekor ini adalah pemulihan konektivitas udara. Penambahan rute langsung dari sejumlah negara, termasuk penambahan frekuensi penerbangan ke Bali, Jakarta, dan Medan, memperbesar kapasitas kursi yang tersedia. Pembukaan rute baru dari sejumlah kota di Asia Timur dan Asia Selatan turut memperluas basis pasar.

Selain transportasi udara, pembangunan akses jalan menuju destinasi, penyediaan fasilitas pelabuhan untuk kapal pesiar, serta perbaikan layanan di bandara menjadi bagian dari strategi yang dijalankan. Pemerintah juga menyoroti pentingnya standardisasi layanan, kebersihan, dan keamanan sebagai faktor penentu daya saing.

Tantangan dan Target Berikutnya

Meski mencatat rekor, sejumlah tantangan masih membayangi. Di antaranya adalah kapasitas akomodasi yang belum merata, keterbatasan sumber daya manusia terampil di daerah tujuan, serta persaingan harga dengan negara tetangga. Isu keberlanjutan juga menjadi perhatian, khususnya pengelolaan sampah dan tekanan terhadap kawasan konservasi di destinasi populer.

Kementerian Pariwisata menargetkan kenaikan kunjungan pada tahun berikutnya dengan penekanan pada kualitas, bukan sekadar jumlah. Fokus diarahkan pada wisatawan dengan lama tinggal lebih panjang dan belanja lebih tinggi, penguatan pasar nontradisional, serta pemerataan kunjungan ke luar Jawa dan Bali. Pengembangan pariwisata berbasis komunitas dan desa wisata disebut akan menjadi prioritas agar manfaat ekonomi menjangkau pelaku usaha lokal.

Dengan capaian tahun ini, sektor pariwisata diposisikan sebagai salah satu motor pertumbuhan yang diandalkan, seiring dengan upaya menjaga stabilitas kunjungan, memperluas konektivitas, dan memastikan keberlanjutan destinasi dalam jangka panjang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizki Setiawan

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter