Dua orang yang diduga anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) tewas dalam sebuah kontak tembak dengan aparat keamanan di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Insiden tersebut terjadi pada Selasa (21/1/2025) di Distrik Aifat, wilayah yang selama beberapa bulan terakhir menjadi lokasi penyisiran aparat gabungan TNI-Polri terhadap kelompok bersenjata yang beroperasi di sekitar pegunungan Maybrat.
Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III, Kolonel Czi IGN Suriastawa, mengonfirmasi bahwa kontak tembak berlangsung sekitar pukul 09.30 WIT. Menurut keterangan resmi yang dihimpun dari Markas Kogabwilhan III, aparat sedang melaksanakan patroli rutin ketika tiba-tiba mendapat tembakan dari arah hutan. Aparat membalas tembakan, dan setelah baku tembak berlangsung sekitar 15 menit, dua orang ditemukan tewas di lokasi kejadian.
Kronologi Insiden Menurut Aparat Keamanan
Suriastawa menjelaskan bahwa patroli tersebut merupakan bagian dari operasi penegakan hukum yang telah berlangsung sejak awal Januari 2025. Operasi ini menyasar kelompok bersenjata yang diduga terlibat dalam serangkaian gangguan keamanan di Maybrat, termasuk penyerangan terhadap pos pengamanan dan pembakaran fasilitas publik. Ia memastikan tidak ada korban dari pihak aparat dalam insiden tersebut.
"Patroli rutin dilakukan untuk memastikan situasi keamanan di Distrik Aifat tetap kondusif. Namun, saat melintasi jalur hutan, aparat mendapat tembakan. Tindakan responsif dilakukan sesuai prosedur,” ujar Suriastawa dalam keterangan tertulis yang diterima media di Manokwari.
Dari lokasi kejadian, aparat mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu pucuk senjata api rakitan, amunisi, serta dokumen dan bendera bertuliskan simbol-simbol OPM. Kedua jenazah kemudian dievakuasi ke Puskesmas terdekat di Aifat untuk proses identifikasi lebih lanjut. Hingga berita ini diturunkan, identitas keduanya belum diumumkan secara resmi karena masih menunggu hasil pemeriksaan tim identifikasi Polda Papua Barat Daya.
Respons Pemerintah Daerah dan Organisasi Masyarakat
Pemerintah Kabupaten Maybrat melalui Sekretaris Daerah, Ferdinand Sakoan, menyatakan telah menerima laporan mengenai insiden tersebut. Ia mengimbau warga tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Pemerintah daerah, kata dia, berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk menjamin keselamatan warga di Distrik Aifat dan sekitarnya.
"Kami meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan spekulasi. Situasi di lapangan masih dalam penanganan aparat. Kami juga telah menyiapkan layanan kesehatan dan pendampingan bagi keluarga korban jika diperlukan,” kata Sakoan di Kumurkek, Selasa sore.
Sementara itu, tokoh masyarakat adat Maybrat, Yulius Kambuaya, mengaku prihatin atas kembali terjadinya kontak tembak di wilayah tersebut. Ia berharap agar pendekatan dialog dan penyelesaian secara damai lebih diutamakan, mengingat dampak konflik bersenjata selalu dirasakan oleh warga sipil. Menurutnya, banyak warga di Distrik Aifat memilih mengungsi ke kampung-kampung yang lebih aman sejak operasi keamanan dimulai.
"Kami berharap tidak ada lagi korban, baik dari aparat maupun warga. Yang paling terdampak selalu masyarakat biasa. Sudah saatnya semua pihak menempuh jalan damai,” ujar Kambuaya.
Latar Belakang Konflik di Maybrat
Maybrat merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua Barat Daya yang dalam beberapa tahun terakhir dilaporkan menjadi lokasi aktivitas kelompok bersenjata yang mengklaim sebagai bagian dari OPM. Serangkaian insiden keamanan terjadi sejak 2023, mulai dari penyerangan terhadap anggota TNI-Polri, pembakaran sekolah, hingga aksi penghentian kendaraan di jalan trans-Papua.
Kelompok kriminal bersenjata di wilayah ini disebut oleh aparat sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang dipimpin oleh beberapa tokoh lokal. Mereka menuntut penarikan aparat keamanan dari wilayah adat serta penghentian operasi tambang dan perkebunan yang dianggap merusak lingkungan.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan menyatakan akan terus mengedepankan pendekatan terpadu dalam menangani konflik di Papua, mencakup penegakan hukum, pembangunan infrastruktur, dan dialog dengan tokoh masyarakat. Namun, hingga kini ketegangan di beberapa kabupaten, termasuk Maybrat, belum sepenuhnya mereda.
Pengamat keamanan dari Universitas Cenderawasih, Dr. Andi Manurun, menilai insiden kontak tembak di Aifat akan memperkuat kekhawatiran warga terhadap eskalasi konflik. Menurutnya, diperlukan langkah konkret untuk membangun kepercayaan antara aparat dan masyarakat, termasuk transparansi dalam mengungkap identitas korban serta proses hukum yang jelas.
"Jika tidak ada komunikasi yang baik, setiap insiden berpotensi menimbulkan reaksi berantai. Dialog lintas pihak harus segera dibangun,” kata Manurun saat dihubungi media.
Hingga berita ini disusun, aparat masih melakukan penyisiran di sekitar lokasi kontak tembak untuk memastikan tidak ada kelompok bersenjata lain yang bersembunyi di hutan. Polisi juga belum menerima laporan adanya korban sipil dalam insiden tersebut. Masyarakat diimbau tetap waspada dan melaporkan setiap aktivitas mencurigakan kepada aparat keamanan setempat.
Komentar (0)