Jumlah pengguna angkutan umum terintegrasi Transum Jakarta mencapai 368 juta perjalanan sepanjang Januari hingga September 2026. Angka itu tumbuh 10,8 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sekitar 332,2 juta perjalanan, atau bertambah sekitar 35,8 juta perjalanan dalam sembilan bulan.
Dengan rentang waktu 273 hari, rata-rata perjalanan harian Transum pada periode tersebut berada di kisaran 1,35 juta. Pada hari kerja, rata-rata perjalanan harian lebih tinggi, sedangkan akhir pekan dan hari libur nasional mencatat volume yang lebih rendah seiring berkurangnya perjalanan rutin warga.
Kenaikan tersebut menjadikan 2026 sebagai periode dengan volume pengguna tertinggi sejak layanan bus Transjakarta dioperasikan dan kemudian diperluas menjadi skema angkutan umum terintegrasi yang mencakup bus koridor, Mikrotrans, layanan feeder, serta keterhubungan dengan moda lain melalui sistem JakLingko.
Pendorong pertumbuhan
Pertumbuhan pengguna pada 2026 terutama ditopang perluasan layanan pengumpan ke kawasan permukiman yang selama ini belum terlayani langsung oleh koridor utama. Layanan Mikrotrans dan rute feeder disebut menjadi penyumbang tambahan perjalanan terbesar karena berfungsi sebagai penghubung pertama dan terakhir menuju halte koridor, stasiun MRT, maupun stasiun LRT.
Faktor kedua adalah integrasi tarif. Dengan sistem satu tarif untuk perjalanan yang menggunakan beberapa moda dalam satu rangkaian, biaya yang dikeluarkan penumpang menjadi lebih dapat diprediksi. Integrasi ini juga mempermudah perpindahan antarmoda di sejumlah titik simpul, terutama di kawasan pusat kota dan koridor timur-barat.
Faktor ketiga adalah penambahan jam operasional dan penyesuaian frekuensi kedatangan bus pada jam sibuk. Penyesuaian ini dinilai berdampak langsung terhadap waktu tunggu penumpang, khususnya pada koridor dengan kepadatan penumpang tinggi seperti koridor yang melintasi kawasan Blok M hingga Kota dan koridor yang menghubungkan Pinang Ranti dengan Pluit.
Pola perjalanan dan jam sibuk
Data perjalanan menunjukkan konsentrasi pengguna terjadi pada dua periode, yakni pagi antara pukul 05.00 hingga 09.00 dan sore hingga malam antara pukul 16.00 hingga 20.00. Pada rentang tersebut, sejumlah halte mencatat antrean penumpang yang lebih panjang, terutama halte yang berdekatan dengan kawasan perkantoran, pusat perbelanjaan, dan titik transit antarmoda.
Di luar jam sibuk, volume pengguna lebih merata dengan pola yang berbeda pada akhir pekan. Pada Sabtu dan Minggu, perjalanan warga lebih banyak menuju kawasan rekreasi, ruang terbuka hijau, dan pusat perdagangan, sehingga titik-titik tertentu justru mengalami lonjakan di luar pola hari kerja.
Pola tersebut menjadi perhatian operator karena menuntut penyesuaian jadwal armada. Ketidaksesuaian antara jadwal dan lonjakan permintaan berpotensi menimbulkan kepadatan di dalam bus maupun di area peron halte.
Digitalisasi layanan
Hampir seluruh transaksi perjalanan Transum kini dilakukan secara nontunai. Sistem tap-in dan tap-out memungkinkan pencatatan perjalanan secara lebih rapi, sekaligus menjadi basis data untuk perencanaan rute dan penentuan frekuensi armada.
Aplikasi JakLingko digunakan penumpang untuk merencanakan perjalanan, memantau posisi armada, dan memperoleh informasi rute pengumpan. Meski demikian, masih terdapat keluhan pengguna terkait akurasi informasi kedatangan bus pada sejumlah rute, terutama rute yang melewati kawasan padat lalu lintas.
Elektrifikasi armada
Sejalan dengan pertumbuhan pengguna, operator melanjutkan penggantian bus bermesin pembakaran dalam dengan bus listrik secara bertahap. Elektrifikasi menyasar koridor dengan jarak tempuh dan ketersediaan fasilitas pengisian daya yang memadai.
Selain mengurangi emisi, bus listrik dinilai memiliki biaya operasional per kilometer yang lebih rendah, meskipun membutuhkan investasi awal lebih besar untuk kendaraan, depo, dan infrastruktur pengisian daya. Kesiapan pasokan listrik dan ruang depo menjadi faktor pembatas kecepatan penggantian armada.
Tantangan yang tersisa
Meski volume pengguna naik, sejumlah persoalan belum sepenuhnya terselesaikan. Kepadatan pada jam sibuk di koridor utama masih terjadi, antara lain karena keterbatasan kapasitas halte dan ruang manuver bus. Beberapa halte juga dinilai belum sepenuhnya ramah bagi penumpang lanjut usia dan penyandang disabilitas.
Aspek keselamatan menjadi perhatian lain, mulai dari kedisiplinan penyeberangan penumpang, konflik dengan kendaraan lain di jalur khusus, hingga keamanan di dalam bus dan area halte. Peningkatan pengawasan berbasis kamera dan penempatan petugas disebut terus dilakukan.
Dari sisi pembiayaan, operasional Transum masih bergantung pada subsidi pemerintah daerah melalui skema kewajiban pelayanan publik. Besaran subsidi berkorelasi dengan jumlah armada yang dioperasikan dan frekuensi layanan, sehingga penambahan kapasitas menuntut ruang fiskal yang memadai. Wacana penyesuaian tarif masih menjadi pembahasan, namun belum ada keputusan yang berlaku.
Proyeksi akhir tahun
Dengan laju pertumbuhan seperti pada sembilan bulan pertama, volume perjalanan Transum hingga Desember 2026 diperkirakan mendekati 490 juta perjalanan untuk sepanjang tahun. Proyeksi itu dengan catatan tidak terjadi gangguan operasional besar, pemutusan rute, atau penurunan permintaan yang signifikan pada kuartal keempat.
Pemerintah daerah menargetkan peningkatan pangsa angkutan umum dalam total perjalanan warga sebagai bagian dari upaya menekan kemacetan dan memperbaiki kualitas udara. Pencapaian target tersebut tidak hanya bergantung pada jumlah penumpang yang terlayani, tetapi juga pada keandalan jadwal, kenyamanan, keselamatan, dan keterjangkauan biaya perjalanan bagi warga.
Komentar (0)