Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak boleh bekerja secara eksklusif. Ia menuntut agar institusi militer nasional itu membangun sinergi dengan seluruh elemen bangsa, mulai dari kementerian, lembaga pemerintah, kepolisian, hingga kepala suku di daerah-daerah terpencil. Penegasan itu disampaikan Prabowo dalam amanatnya saat memimpin upacara peringatan HUT ke-81 TNI di Jakarta, yang berlangsung dengan pemeriksaan pasukan menggunakan kendaraan taktis Maung MV3.
Sinergi Lintas Institusi Sebagai Perintah Utama
Dalam amanatnya, Prabowo menyebut sinergi sebagai kunci utama menghadapi tantangan kebangsaan yang semakin kompleks. Menurutnya, tidak ada satu institusi pun yang mampu menyelesaikan persoalan bangsa secara sendiri-sendiri. Karena itu, TNI diminta aktif membangun kerja sama dengan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, Polri, dunia usaha, hingga pemimpin komunitas adat di wilayah terpencil.
Presiden menilai keberhasilan pembangunan di daerah perbatasan, pulau-pulau terluar, dan kawasan rawan konflik sangat bergantung pada kemampuan TNI menjalin komunikasi dengan tokoh lokal. Ia mencontohkan peran kepala suku yang kerap menjadi penentu keberhasilan program pemerintah di wilayah pedalaman. Menurutnya, pendekatan keamanan yang kaku tanpa melibatkan tokoh adat justru berpotensi menimbulkan hambatan baru.
Prabowo juga mengingatkan bahwa TNI adalah milik rakyat. Setiap prajurit, dari pangkat terendah hingga perwira tinggi, harus mampu menjadi perekat persatuan. Ia meminta agar sikap arogan dan eksklusivitas di lingkungan satuan dihilangkan, digantikan dengan semangat kolaborasi lintas sektor.
Prestasi Jadi Tolok Ukur Karier Prajurit
Selain menekankan sinergi, Presiden Prabowo menuntut agar tentara mengutamakan prestasi dalam pengembangan karier. Ia menegaskan bahwa promosi jabatan dan kenaikan pangkat harus didasarkan pada kinerja, kompetensi, serta kontribusi nyata bagi negara, bukan pada kedekatan personal atau kepentingan kelompok.
Menurutnya, sistem pembinaan karier yang transparan dan berbasis prestasi akan melahirkan generasi perwira yang profesional, disiplin, dan dipercaya publik. Prabowo meminta pimpinan TNI memastikan setiap prajurit memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, termasuk mereka yang bertugas di daerah terpencil dan daerah operasi.
Ia juga menyinggung pentingnya penguasaan teknologi, kemampuan siber, serta adaptasi terhadap perubahan bentuk ancaman. Perang masa depan, kata dia, tidak lagi hanya menghadapkan tentara pada pertempuran konvensional, tetapi juga pada ancaman siber, disinformasi, dan krisis nonmiliter. Karena itu, peningkatan kapasitas personel menjadi keharusan, bukan pilihan.
Modernisasi Alutsista dan Kesejahteraan Prajurit
Dalam kesempatan yang sama, Presiden menyoroti program modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Ia menyebut kendaraan taktis Maung MV3 yang ia gunakan saat memeriksa pasukan sebagai hasil karya anak bangsa. Menurutnya, pengembangan industri pertahanan dalam negeri harus terus didorong agar TNI tidak bergantung pada pasokan luar negeri.
Namun, Prabowo mengingatkan bahwa modernisasi alutsista tidak cukup tanpa peningkatan kesejahteraan prajurit. Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk memperbaiki tunjangan, fasilitas kesehatan, perumahan dinas, serta jaminan pendidikan bagi keluarga prajurit. Kesejahteraan yang layak, ujarnya, merupakan fondasi loyalitas dan profesionalisme.
Netralitas dan Pengabdian kepada Rakyat
Prabowo juga menekankan pentingnya netralitas TNI dalam kehidupan politik. Ia mengingatkan bahwa tugas utama tentara adalah menjaga kedaulatan negara, melindungi rakyat, dan mendukung pembangunan nasional. Karena itu, ia meminta jajaran TNI tidak terlibat dalam kepentingan politik praktis yang dapat merusak kepercayaan publik.
Ia mengapresiasi pengabdian prajurit yang bertugas di garis depan, termasuk mereka yang terlibat dalam operasi kemanusiaan, penanggulangan bencana, dan pembangunan infrastruktur di daerah tertinggal. Menurutnya, kehadiran TNI di tengah masyarakat harus memberi rasa aman dan manfaat nyata.
Di akhir amanatnya, Presiden mengajak seluruh prajurit menjadikan HUT ke-81 TNI sebagai momentum refleksi dan pembenahan diri. Ia berharap TNI semakin profesional, modern, tangguh, serta dicintai rakyat. Sinergi dengan kepala suku dan seluruh elemen bangsa, tegasnya, adalah jalan agar TNI tetap menjadi benteng kedaulatan sekaligus perekat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Komentar (0)