Korea Selatan secara resmi memperkenalkan rudal hipersonik terbaru dalam sebuah upacara militer yang digelar di pangkalan udara di Daejeon, Selasa. Peluncuran senjata strategis ini menandai babak baru persaingan teknologi militer di Semenanjung Korea, beberapa pekan setelah Korea Utara mengumumkan keberhasilan uji coba rudal hipersonik yang diklaim mampu menembus sistem pertahanan udara kawasan.
Rudal yang diberi nama Hycore-II tersebut diklaim memiliki kecepatan lebih dari Mach 5 atau sekitar 6.200 kilometer per jam. Kecepatan itu memungkinkan rudal mencapai sasaran di wilayah mana pun di Semenanjung Korea dalam hitungan menit. Pemerintah Korea Selatan menyatakan pengembangan rudal ini merupakan bagian dari program modernisasi pertahanan jangka panjang yang bertujuan memperkuat kemampuan pencegahan terhadap ancaman eksternal.
Balasan atas Uji Coba Korea Utara
Peluncuran Hycore-II berlangsung hanya tiga minggu setelah Korea Utara mengklaim sukses menguji rudal hipersonik berhulu ledak konvensional dari arah barat laut menuju laut timur. Pyongyang menyebut uji coba tersebut sebagai kemajuan signifikan dalam kemampuan serangan presisi yang tidak dapat diintersepsi oleh sistem pertahanan musuh. Langkah Korea Utara itu memicu kekhawatiran di Seoul dan Washington, yang menilai uji coba tersebut melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.
Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan menyatakan pihaknya tidak tinggal diam. "Kami telah menyelesaikan tahap verifikasi teknologi utama dan kini memasuki fase produksi terbatas," kata seorang pejabat kementerian yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan, rudal baru ini akan dikerahkan ke unit-unit strategis mulai tahun depan setelah melalui serangkaian uji tembak operasional.
Pengamat militer menilai langkah Seoul memperlihatkan pergeseran doktrin pertahanan. Selama ini Korea Selatan lebih mengandalkan aliansi dengan Amerika Serikat dan sistem pertahanan berbasis darat seperti THAAD. Namun, munculnya rudal hipersonik Korea Utara mendorong Seoul mempercepat pengembangan senjata ofensif yang mampu menembus pertahanan lawan.
Teknologi dan Tantangan
Rudal hipersonik berbeda dari rudal balistik konvensional karena dapat bermanuver di sepanjang lintasan penerbangan. Kemampuan itu membuat sistem pertahanan udara musuh sulit memprediksi arah datangnya serangan. Hycore-II dikembangkan dengan teknologi scramjet yang memungkinkan pembakaran bahan bakar pada kecepatan hipersonik tanpa perlu oksigen cair.
Meski demikian, sejumlah ahli meragukan klaim kemampuan penuh rudal tersebut. "Masih ada pertanyaan soal akurasi terminal dan ketahanan material pada suhu ekstrem," ujar seorang peneliti dari Institut Kajian Pertahanan Korea. Ia menilai Korea Selatan masih tertinggal beberapa tahun dari China dan Rusia yang lebih dulu mengembangkan senjata hipersonik operasional.
Korea Selatan sendiri telah menginvestasikan lebih dari 1,2 triliun won atau sekitar Rp14 triliun untuk program hipersonik sejak 2021. Anggaran itu mencakup pengembangan mesin scramjet, material tahan panas, dan sistem navigasi presisi. Pemerintah berencana menambah alokasi dana pada 2026 seiring meningkatnya ancaman regional.
Respons Regional
Jepang menyatakan akan meningkatkan pemantauan terhadap perkembangan militer di Semenanjung Korea. Kementerian Pertahanan Jepang menilai rudal hipersonik Korea Selatan dapat mengubah keseimbangan kekuatan di Asia Timur. Sementara itu, China belum memberikan tanggapan resmi, tetapi media pemerintahnya menyoroti perlombaan senjata yang semakin intensif di kawasan.
Amerika Serikat menyambut baik pengembangan tersebut. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyebut Korea Selatan sebagai sekutu penting yang memiliki hak untuk memperkuat pertahanan diri. Namun, Washington juga mendesak Seoul tetap menjaga stabilitas dan menghindari eskalasi yang tidak perlu.
Pengumuman ini muncul di tengah kebuntuan perundingan denuklirisasi Korea Utara. Dialog enam pihak yang terakhir digelar pada 2019 tidak menunjukkan kemajuan berarti. Sejak itu, Pyongyang terus meningkatkan kemampuan militernya, termasuk menguji rudal balistik antarbenua dan satelit mata-mata.
Dampak bagi Stabilitas Semenanjung
Para analis memperingatkan bahwa perlombaan senjata hipersonik di Semenanjung Korea berpotensi memicu ketegangan baru. Kedua negara kini memiliki kemampuan menyerang sasaran strategis dalam waktu singkat, yang memperkecil ruang bagi diplomasi dan mekanisme pencegahan konvensional.
"Ketika jarak tempuh rudal hanya beberapa menit, waktu pengambilan keputusan menjadi sangat sempit," kata seorang pengamat hubungan internasional dari Universitas Yonsei. "Ini meningkatkan risiko kesalahpahaman yang bisa berujung pada konflik tidak disengaja."
Meski begitu, Korea Selatan menegaskan pengembangan senjata ini bersifat defensif. Pemerintah menekankan bahwa Hycore-II tidak akan digunakan untuk menyerang lebih dulu, melainkan sebagai instrumen pencegahan agar pihak lain berpikir dua kali sebelum melakukan provokasi.
Dengan peluncuran ini, Semenanjung Korea memasuki era baru persaingan teknologi militer. Kecepatan menjadi faktor penentu, sementara stabilitas kawasan bergantung pada kemampuan kedua belah pihak menahan diri dan membuka kembali jalur komunikasi yang selama ini terputus.
Komentar (0)