01, 2026
Nasional

Sosok Gus Baha, Ulama Tafsir yang Dipilih Jadi Wakil Rais Aam PBNU

Nadia Kusuma
Nadia Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kabar mengejutkan datang dari arena Muktamar Ke-34 Nahdlatul Ulama. KH Ahmad Bahauddin Nursalim, ulama kharismatik yang akrab disapa Gus Baha, terpilih sebagai Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk periode 2022-2027. Penetapan ini menjadi salah satu keputusan paling menarik perhatian publik, mengingat sosok Gus Baha dikenal sebagai ulama tafsir yang selama ini lebih banyak menghabiskan waktunya di pesantren dan majelis ilmu ketimbang di panggung politik organisasi.

Profil Singkat Gus Baha

Gus Baha lahir di Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada 1970. Ia merupakan putra dari KH Nursalim, seorang ulama yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur'an di desa tersebut. Darah keulamaan mengalir kuat dalam keluarganya. Kakek dari ibunya, KH Musthofa, dikenal sebagai penghafal Al-Qur'an dan pendiri pesantren tempat ia tumbuh besar.

Sejak kecil, Gus Baha menunjukkan kecerdasan luar biasa dalam menyerap ilmu, khususnya yang berkaitan dengan Al-Qur'an dan tafsir. Ia menempuh pendidikan dasar di lingkungan pesantren keluarganya, lalu melanjutkan ke Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, asuhan KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen. Di pesantren inilah Gus Baha mendalami berbagai disiplin ilmu keislaman, terutama tafsir, hadis, fikih, dan ushul fikih.

Setelah menamatkan pendidikan di Sarang, Gus Baha melanjutkan studi ke Mekah, Arab Saudi. Ia berguru kepada sejumlah ulama besar di sana, di antaranya Syekh Yasin bin Isa Al-Fadani, ulama asal Minangkabau yang menjadi rujukan ilmu hadis di Haramain. Pengalaman menimba ilmu di tanah suci inilah yang semakin memperkuat kapasitasnya sebagai ahli tafsir.

Ulama Tafsir yang Fenomenal

Nama Gus Baha mulai mencuat ke permukaan publik nasional sekitar satu dekade terakhir, terutama melalui unggahan ceramah-ceramahnya di media sosial. Gaya dakwahnya yang khas membuatnya cepat populer di kalangan generasi muda Nahdlatul Ulama. Ia berbicara dengan tempo cepat, penuh humor, namun tetap mendalam secara ilmiah.

Yang paling membedakan Gus Baha dari kebanyakan penceramah adalah penguasaannya terhadap tafsir Al-Qur'an. Ia kerap menyampaikan kajian tafsir dengan merujuk langsung pada kitab-kitab klasik seperti Tafsir Al-Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qurthubi, dan Tafsir At-Thabari. Kemampuannya menghafal ayat, hadis, serta pendapat para ulama salaf membuat kajiannya selalu dinanti.

Selain tafsir, Gus Baha juga dikenal sebagai pakar dalam ilmu qira'at atau cara membaca Al-Qur'an. Ia pernah mengaji qira'at sab'ah kepada Syekh Abdul Karim di Mekah. Kombinasi penguasaan tafsir dan qira'at ini menjadikannya salah satu ulama yang paling dihormati di lingkungan pesantren.

Meski populer, Gus Baha dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan tidak ambisius terhadap jabatan. Ia lebih senang mengajar di pondok pesantrennya di Narukan, Rembang, serta memenuhi undangan majelis taklim di berbagai daerah. Kesederhanaan inilah yang membuat umat semakin mencintainya.

Terpilih sebagai Wakil Rais Aam PBNU

Dalam Muktamar Ke-34 NU yang digelar di Lampung pada Desember 2021, Gus Baha dicalonkan sebagai Wakil Rais Aam. Proses pemilihan berlangsung melalui mekanisme ahlul halli wal aqdi, sebuah forum yang terdiri dari ulama-ulama senior dan kiai kharismatik yang diberi mandat memilih pemimpin organisasi. Forum ini menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan Gus Baha sebagai pendampingnya.

Penetapan Gus Baha sebagai Wakil Rais Aam disambut positif oleh banyak kalangan. Wakil Rais Aam memiliki tugas membantu Rais Aam dalam menjalankan fungsi keulamaan, membimbing organisasi dalam hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan, serta menjaga marwah dan tradisi NU sebagai organisasi Islam terbesar di dunia.

Kehadiran Gus Baha di jajaran Syuriah PBNU diharapkan memperkuat dimensi keilmuan Islam dalam setiap kebijakan organisasi. Sebagai ulama yang mendalam penguasaan tafsirnya, ia diyakini mampu memberikan perspektif Al-Qur'an dalam merespons berbagai persoalan kontemporer yang dihadapi umat, mulai dari isu sosial, ekonomi, hingga kebangsaan.

Harapan Nahdliyin

Bagi warga Nahdliyin, terpilihnya Gus Baha membawa angin segar. Ia dianggap sebagai representasi ulama yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan baik kepada masyarakat luas, terutama generasi milenial dan generasi Z. Kemampuannya menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah menjadikannya jembatan antara dunia pesantren dan dunia digital.

Selain itu, Gus Baha dikenal konsisten dalam menjaga tradisi keilmuan pesantren. Ia kerap menekankan pentingnya sanad atau mata rantai keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah SAW. Baginya, sanad adalah ciri khas keilmuan Ahlussunnah wal Jama'ah yang membedakannya dari kelompok lain.

Dengan mandat sebagai Wakil Rais Aam, Gus Baha kini mengemban tanggung jawab besar untuk menjaga dan merawat tradisi keilmuan NU sekaligus menjawab tantangan zaman. Banyak pihak berharap kepemimpinannya bersama Rais Aam KH Miftachul Akhyar dapat memperkuat peran NU sebagai organisasi yang moderat, toleran, dan berlandaskan pada Al-Qur'an serta sunnah Nabi.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Kusuma

Fokus pada kesehatan anak, imunisasi, dan tumbuh kembang.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter