STY Kritik Kericuhan Suporter saat Persija Dijamu Persita
Kericuhan yang melibatkan suporter Persija Jakarta dan Persita Tangerang dalam laga lanjangan Liga 1 di Stadion Wibawa Mukti, Tangerang, mendapat kritikan tajam dari Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI, Yunus Nusi. Menurutnya, insiden tersebut merusak citarsepak bola Indonesia dan harus dihindari di masa depan.
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Yunus Nusi menyatakan kekecewaannya atas aksi sebagian suporter yang tidak bisa menjaga sportivitas. "Kami menyesalkan adanya aksi tidak sportif yang dilakukan sebagian suporter. Sepak bola adalah olahraga yang harus membawa kebahagiaan dan kebersamaan, bukan konflik," ujar Yunus Nuku, Sabtu (25/3/2023).
Insiden yang Terjadi
Insiden kericuhan terjadi pada menit akhir pertandingan saat Persita unggul 2-1 atas Persija. Beberapa suporter Persija yang tidak terima dengan kekalahan tim mereka memasuki lapangan dan menyerang suporter Persita. Aksi tersebut memicu kepanikan di tribun dan memaksa wasit menghentikan sementara pertandingan.
Petugas keamanan dan polisi yang berjaga langsung turun tangan untuk mengendalikan situasi. Beberapa orang harus diamankan oleh aparat keamanan karena diduga terlibat dalam bentrok tersebut. Insiden ini juga membuat jalannya pertandingan tertunda sekitar 30 menit sebelum akhirnya dilanjutkan hingga usai.
Reaksi Pihak Terkait
Manajer Persita, Ahmad Junaedi, meminta maaf atas insiden yang terjadi. Kami minta maaf kepada seluruh pihak, terutama suporter Persija yang menjadi korban dalam insiden ini. Kami akan menindak tegas para pelaku dan bekerja sama dengan pihak berwenang untuk menyelidiki kasus ini," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Persija, Glenn Sugita, juga menyatakan kekecewaannya. Kami menyesalinya karena ada sebagian suporter kita yang tidak bisa menjukan sportivitas. Kami akan segera mengumpulkan pengurus untuk membahas tindakan tegas terhadap para pelaku," jelas Glenn.
Kebijakan PSSI
Yunus Nusi mengungkapkan bahwa PSSI akan mengambil langkah tegas terhadap klub yang gagal mengontrol suporter. "Kami akan menerapkan sanksi berat bagi klub yang tidak bisa menjaga keamanan di stadion. Sanksi bisa berupa denda, pengurangan poin, atau bahkan larangan bermain di kandang," tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa PSSI akan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk mengidentifikasi para pelaku. "Kami tidak akan mentolerir aksi kekerasan dalam sepak bola. Pelaku akan diproses sesuai hukum yang berlaku," tambahnya.
Tanggapan Suporter
Sebagian suporter Persija yang tidak terlibat dalam insiden menyesalkan aksi rekan sesama suporter. Kami datang untuk mendukung tim, bukan untuk berantem. Aksi sebagian rekan kita tidak mencerminkan semangat suporter Persija yang sportif," kata Ade, seorang suporter Persija yang hadir di stadion.
Sementara itu, Ali, suporter Persita, mengaku masih trauma dengan insiden tersebut. Tidak enak rasanya jadi tuan rumah tapi malah dihadapi dengan kekerasan. Semoga ini yang terakhir kali terjadi," ujarnya.
Langkah Pencegahan
Untuk mencegah insiden serupa di masa depan, PSSI berencana melakukan beberapa langkah. Pertama, meningkatkan koordinasi antara klub, polisi, dan panitia penyelenggara. Kedua, memberikan edukasi kepada suporter tentang pentingnya sportivitas. Ketiga, memperketat sistem tiket dan pengamanan di stadion," papar Yunus.
Menurutnya, semua pihak harus bersama-sama menjaga citarsepak bola Indonesia. Sepak bola adalah warbang bangsa yang harus kita jaga bersama. Tidak ada tempat untuk kekerasan dalam olahraga ini," tutupnya.
Komentar (0)