22, 2026
Teknologi

BSSN Waspadai Ancaman Komputasi Kuantum, Data Dicuri untuk Dibuka Nanti

Anisa Permata
Anisa Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengingatkan bahwa ancaman komputasi kuantum terhadap keamanan siber nasional bukan lagi persoalan yang sepenuhnya berada di masa depan. Risiko yang paling konkret bukan sekadar kemampuan komputer kuantum membobol enkripsi pada saat teknologinya benar-benar matang, melainkan pola serangan yang sudah dapat berlangsung hari ini: data sensitif disalin dan disimpan lebih dulu, lalu dibuka kemudian ketika daya komputasi kuantum sudah memadai.

Pola itu dikenal sebagai harvest now, decrypt later. Dalam skenario ini, pelaku tidak perlu memiliki komputer kuantum yang siap pakai. Mereka cukup mencuri lalu lintas data terenkripsi atau basis data yang dilindungi kriptografi kunci publik, menimbunnya di server, dan menunggu hingga teknologi yang mampu memecahkan kunci tersebut tersedia. Karena masa simpan banyak jenis data jauh lebih panjang daripada perkiraan waktu kematangan komputasi kuantum, kerahasiaan yang dianggap aman hari ini bisa runtuh sepenuhnya dalam sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan.

Mengapa Kriptografi Kunci Publik Paling Rentan

Ancaman utama menyasar kriptografi asimetris, yaitu algoritma yang selama ini menjadi tulang punggung keamanan internet, mulai dari RSA hingga Elliptic Curve Cryptography (ECC). Keduanya mengandalkan kesulitan matematis yang diperkirakan dapat diatasi oleh algoritma Shor apabila tersedia komputer kuantum dengan jumlah kubit stabil yang memadai. Algoritma itu secara teoretis mampu memfaktorkan bilangan besar dan menyelesaikan persoalan logaritma diskret dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan komputer klasik.

Kriptografi simetris seperti AES berada pada posisi berbeda. Algoritma Grover hanya memberikan percepatan kuadratik, sehingga dampaknya dapat dimitigasi secara relatif sederhana, antara lain dengan menggandakan panjang kunci. Namun kriptografi simetris tidak berdiri sendiri. Mekanisme pertukaran kunci, tanda tangan digital, sertifikat, dan infrastruktur kunci publik yang membuat komunikasi simetris itu mungkin dilakukan justru bergantung pada algoritma asimetris yang rentan.

Dampak pada Infrastruktur Digital

Karena itu, BSSN memandang risiko ini sebagai persoalan infrastruktur, bukan sekadar persoalan satu atau dua sistem. Sertifikat situs web, tanda tangan elektronik, transaksi perbankan, komunikasi antarperangkat, hingga pengamanan jalur komunikasi pemerintah semuanya bersandar pada mekanisme yang sama. Jika satu komponen kunci publik gagal, dampaknya menjalar ke seluruh rantai kepercayaan digital.

Kriptografi Pascakuantum sebagai Jalan Keluar

Respons utama yang tersedia saat ini adalah migrasi ke kriptografi pascakuantum (post-quantum cryptography/PQC), yaitu algoritma yang dirancang untuk tetap aman terhadap serangan komputer kuantum maupun klasik. Lembaga Standar dan Teknologi Nasional Amerika Serikat (NIST) telah menetapkan sejumlah standar algoritma pascakuantum, termasuk untuk mekanisme pembungkusan kunci dan tanda tangan digital, setelah melalui proses evaluasi terbuka selama bertahun-tahun.

Bagi Indonesia, adopsi PQC bukan pekerjaan sekali jadi. Diperlukan pemetaan aset kriptografi, yaitu inventarisasi menyeluruh atas algoritma, protokol, dan perangkat apa saja yang digunakan di tiap instansi dan sektor industri. Tanpa inventaris yang akurat, migrasi berisiko menimbulkan celah baru, terutama pada sistem warisan yang sudah beroperasi lama dan sulit diubah.

Konsep Agility Kriptografi

Pendekatan yang dianjurkan adalah crypto agility, yakni merancang sistem agar mampu mengganti algoritma tanpa harus membongkar ulang arsitektur secara keseluruhan. Dalam masa transisi, pendekatan hibrida, yang menggabungkan algoritma klasik dan pascakuantum secara bersamaan, dinilai lebih aman karena memberikan perlindungan berlapis: jika salah satu algoritma ternyata memiliki kelemahan, lapisan lainnya masih menjaga keamanan data.

Prioritas Sektor dan Perlindungan Data Pribadi

BSSN menempatkan sektor-sektor dengan siklus hidup data panjang sebagai prioritas utama. Data kesehatan, catatan keuangan, dokumen kenegaraan, data intelijen, kekayaan intelektual, dan informasi identitas kependudukan merupakan contoh data yang nilainya tetap tinggi meski dibaca bertahun-tahun kemudian. Data semacam ini justru paling menarik bagi pelaku harvest now, decrypt later.

Dari sisi regulasi, kewajiban pelindungan data pribadi memperkuat urgensi langkah ini. Pengendali data dituntut tidak hanya mencegah kebocoran, tetapi juga memastikan bahwa data yang disimpan tetap terlindungi sepanjang masa retensinya. Enkripsi yang kelak dapat ditembus berarti secara substantif setara dengan tidak ada perlindungan sama sekali.

Kesiapan SDM dan Tata Kelola

Selain teknologi, tantangan migrasi mencakup kapasitas sumber daya manusia, pengujian interoperabilitas, dan tata kelola pengadaan. Perangkat keras dan perangkat lunak yang dibeli hari ini berpotensi masih digunakan ketika ancaman kuantum menjadi nyata, sehingga persyaratan kesiapan pascakuantum perlu mulai dimasukkan ke dalam spesifikasi teknis dan kontrak pengadaan.

BSSN memandang koordinasi lintas sektor sebagai prasyarat. Pemerintah, regulator sektor jasa keuangan, operator telekomunikasi, penyedia layanan awan, dan industri keamanan siber perlu menyusun peta jalan bertahap dengan tenggat yang jelas, disertai pengujian berkala terhadap kesiapan sistem nasional menghadapi skenario kriptografi pascakuantum.

Kesimpulannya, ancaman komputasi kuantum bukan peristiwa tunggal yang bisa diantisipasi secara mendadak. Ia adalah proses panjang yang sudah berjalan diam-diam melalui data yang telah telanjur dicuri dan disimpan. Karena itu, langkah paling rasional bukan menunggu teknologi itu tiba, melainkan mulai memindahkan infrastruktur kriptografi nasional ke fondasi yang tahan kuantum sejak sekarang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Anisa Permata

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter