19, 2026
Teknologi

Endang Dzunuraini Berdayakan Perempuan Desa Lewat Sanggar Batik Mbah Guru

Endang Dzunuraini masuk 3 besar DPD RI Awards 2026 sebagai Pelestari Budaya. Dia mendirikan Sanggar Mbah Guru untuk melestarikan batik di Lamongan.]]>

Intan Permata
Intan Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Endang Dzunuraini Berdayakan Perempuan Desa Lewat Sanggar Batik Mbah Guru

Nama Endang Dzunuraini lekat dengan upaya pemberdayaan perempuan desa melalui Sanggar Batik Mbah Guru. Lewat sanggar itu, ia mengajak warga, terutama perempuan, untuk mengembangkan keterampilan membatik sebagai bekal ekonomi sekaligus cara merawat tradisi. Kegiatan tersebut menjadikan batik bukan hanya warisan budaya yang dipajang, tetapi juga aktivitas produktif yang dikerjakan warga dari hari ke hari.

Keberadaan sanggar batik di lingkungan pedesaan menunjukkan bahwa keterampilan tradisional masih memiliki ruang untuk tumbuh. Perempuan yang sebelumnya banyak berkutat pada urusan rumah tangga mendapat kesempatan menambah keterampilan, mengisi waktu dengan kegiatan produktif, dan pada tahap berikutnya memperoleh penghasilan tambahan bagi keluarga.

Membatik sebagai Keterampilan Bernilai Ekonomi

Dalam pandangan Endang Dzunuraini, membatik bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Keterampilan ini menuntut ketelitian, kesabaran, dan pemahaman atas motif serta proses pewarnaan. Karena itu, pembelajaran di sanggar diarahkan agar peserta tidak hanya mampu meniru pola, tetapi juga memahami tahapan kerja secara utuh, mulai dari menyiapkan kain, menggambar motif, mencanting, mewarnai, hingga menyelesaikan produk.

Pendekatan itu penting agar hasil karya memiliki nilai jual. Batik yang dikerjakan dengan pemahaman proses cenderung lebih rapi dan memiliki karakter. Dengan demikian, perempuan yang terlibat di sanggar tidak hanya menjadi pelaksana sebagian pekerjaan, tetapi dapat menguasai rangkaian produksi secara mandiri.

Pelatihan dan Pendampingan Berkelanjutan

Kegiatan di Sanggar Batik Mbah Guru dijalankan dengan pola pelatihan dan pendampingan. Peserta baru biasanya memulai dari pengenalan alat dan bahan, kemudian berlatih membuat motif sederhana sebelum mengerjakan kain yang lebih besar. Pendampingan diberikan agar kesalahan pada tahap awal tidak berulang dan kualitas karya meningkat.

Selain keterampilan teknis, peserta juga diperkenalkan pada cara menghitung biaya produksi, menentukan harga, dan mengemas produk. Hal ini menjadi bekal penting ketika karya hendak dipasarkan, baik di lingkungan sekitar maupun melalui pameran dan jaringan penjualan yang lebih luas.

Perempuan Desa dan Perubahan Peran

Pemberdayaan perempuan desa melalui batik menyentuh aspek yang lebih luas dari sekadar penghasilan. Kegiatan bersama di sanggar membuka ruang bagi perempuan untuk bertemu, bertukar pengalaman, dan saling mendukung. Ruang semacam ini sering kali menjadi tempat tumbuhnya kepercayaan diri, terutama bagi perempuan yang sebelumnya jarang terlibat dalam kegiatan di luar rumah.

Ketika perempuan memiliki kegiatan produktif dan penghasilan sendiri, posisinya dalam keluarga turut berubah. Mereka dapat berkontribusi pada kebutuhan rumah tangga, mengambil keputusan yang lebih luas, dan menjadi contoh bagi generasi berikutnya. Perubahan tersebut tidak selalu berlangsung cepat, tetapi dampaknya terasa dalam jangka panjang.

Bagi desa, keberadaan sanggar batik juga memberi nilai tambah. Aktivitas warga yang terorganisasi dapat menjadi penanda identitas lokal, terutama jika motif dan corak yang dikembangkan berkaitan dengan kekayaan budaya setempat. Identitas itu berpotensi menjadi daya tarik tersendiri, baik bagi wisatawan maupun bagi pembeli yang mencari produk khas.

Tantangan yang Masih Dihadapi

Meski memberi harapan, upaya pemberdayaan melalui batik tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah akses pasar. Produk batik dari sanggar di pedesaan kerap bersaing dengan produk pabrikan yang harganya lebih murah. Karena itu, penguatan pemasaran, promosi, dan jejaring pembeli menjadi pekerjaan yang harus terus dilakukan.

Tantangan lain adalah regenerasi. Keterampilan membatik membutuhkan waktu untuk dikuasai, sementara minat generasi muda terhadap kerajinan tradisional tidak selalu besar. Diperlukan pendekatan yang membuat batik terasa relevan dengan kehidupan anak muda, misalnya melalui desain yang mengikuti selera pasar tanpa meninggalkan ciri khas.

Persoalan modal dan peralatan juga masih menjadi kendala yang biasa dihadapi sanggar-sanggar kecil. Ketersediaan bahan, kualitas pewarna, dan kondisi ruang kerja memengaruhi hasil produksi. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah desa, pelaku usaha, dan komunitas, dinilai penting agar kegiatan dapat berjalan berkelanjutan.

Harapan pada Masa Depan

Melalui Sanggar Batik Mbah Guru, Endang Dzunuraini menempatkan perempuan desa sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton perubahan. Pendekatan yang menekankan pelatihan, pendampingan, dan kebersamaan itu menjadi salah satu cara merawat tradisi sekaligus membuka jalan ekonomi bagi warga.

Ke depan, keberlanjutan sanggar bergantung pada kemampuan beradaptasi. Kualitas produk perlu dijaga, pemasaran perlu diperluas, dan regenerasi perlu dipikirkan. Jika hal-hal itu berjalan, batik dari desa tidak hanya bertahan sebagai warisan, tetapi juga tumbuh sebagai sumber penghidupan yang nyata bagi perempuan yang menggelutinya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Intan Permata

Spesialis konten kuliner sehat, diet, dan resep rendah kalori.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter